<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Salafy.or.id</title>
	<atom:link href="http://www.salafy.or.id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.salafy.or.id</link>
	<description>Meniti Jejak Salafush Shalih</description>
	<lastBuildDate>Wed, 22 Feb 2012 03:55:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Dauroh &#8220;Menyimpang Tanpa Sadar&#8221; di Jakarta (26/02/2012)</title>
		<link>http://www.salafy.or.id/2012/02/22/dauroh-menyimpang-tanpa-sasar-di-jakarta-26022012/</link>
		<comments>http://www.salafy.or.id/2012/02/22/dauroh-menyimpang-tanpa-sasar-di-jakarta-26022012/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Feb 2012 03:54:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dauroh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.salafy.or.id/?p=4837</guid>
		<description><![CDATA[Bismillah                         Istiqomah Di Atas Al-Haq Adalah Jalan Keselamatan . Syaithon Tidak Akan Membiarkan Manusia... <a class="meta-more" href="http://www.salafy.or.id/2012/02/22/dauroh-menyimpang-tanpa-sasar-di-jakarta-26022012/">selengkapnya <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Bismillah</strong></p>
<p>                        Istiqomah Di Atas Al-Haq Adalah Jalan Keselamatan . Syaithon Tidak Akan Membiarkan Manusia Berada Di Atas Kebenaran. Segala Makar Dan Tipu Daya Yang Kasar Hingga Halus Yang Melenakan Hingga Tanpa Sadar Sekian Umat Ini Telah Menyimpang Dari Jalan Kebenaran. YANG HALAL MENJADI HARAM YANG SYUBHAT MENJADI MASLAHAT.</p>
<p>Dengan Mengharap Ridho-Nya Serta Sebagai Nasehat Untuk Diri dan Umat Hadirilah Dauroh Dengan Tema</p>
<h2 align="center"><strong>&#8220;Menyimpang Tanpa Sadar&#8221;</strong></h2>
<p>Pemateri Ustadz Muhammad Affifudin As Sidawy</p>
<p>Hari             : Ahad</p>
<p>Tanggal        : 26 Februari 2012</p>
<p>Jam              :  09.00  s/d 12.00 WIB</p>
<p>Tempat         : Masjid Al I&#8217;tishom Jalan Jendral Sudirman Jakarta Pusat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>CP :  Ridho 081316322048</p>
<p>Hamzah 08567133567</p>
<p>Dony 081381353819</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.salafy.or.id/2012/02/22/dauroh-menyimpang-tanpa-sasar-di-jakarta-26022012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HADITS JIBRIL SEBAGAI PONDASI ISLAM DAN IMAN (3)</title>
		<link>http://www.salafy.or.id/2012/02/13/hadits-jibril-sebagai-pondasi-islam-dan-iman-3/</link>
		<comments>http://www.salafy.or.id/2012/02/13/hadits-jibril-sebagai-pondasi-islam-dan-iman-3/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Feb 2012 03:33:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.salafy.or.id/?p=4764</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Ustadz Kharisman Di antara pelajaran-pelajaran yang bisa diambil (Faidah) dari hadits ini 1. Malaikat... <a class="meta-more" href="http://www.salafy.or.id/2012/02/13/hadits-jibril-sebagai-pondasi-islam-dan-iman-3/">selengkapnya <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">Oleh Ustadz Kharisman</p>
<p>Di antara pelajaran-pelajaran yang bisa diambil (Faidah) dari hadits ini<br />
1.	Malaikat atas idzin Allah bisa menampakkan diri dalam wujud manusia, sebagaimana Malaikat Jibril dalam hadits ini.<br />
2.	Adab penuntut ilmu dalam menghadiri majelis, seperti yang ditunjukkan oleh Jibril:<br />
-	Berpakaian dan berpenampilan baik.<br />
-	Mendekat kepada guru/ ustadz yang menyampaikan ilmu.<br />
-	Menyampaikan pertanyaan secara adab.<br />
Dalam riwayat lain, Jibril berkata: Bolehkah saya mendekat, wahai Rasulullah. Rasul menjawab: mendekatlah. Kemudian ia bertanya lagi: Bolehkah saya mendekat wahai Rasulullah. Rasul menjawab: Mendekatlah. Ia bertanya lagi: Bolehkah saya mendekat wahai Rasulullah. Rasul menjawab: Mendekatlah. Sampai-sampai lututnya hampir bersentuhan dengan lutut Rasulullah. ….Ibnu Umar berkata: Saya tidak pernah melihat seseorang yang lebih besar penghormatannya kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dibandingkan dia (H.R Ahmad dari jalur ‘Alqomah bin Martsad dari Sulaiman bin Buraidah dari Ibnu Ya’mar dari Ibnu Umar).<br />
3.	Penjelasan tentang rukun Islam, Iman, dan Ihsan<br />
4.	Tidak ada yang mengetahui kapan terjadinya hari kiamat kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala.<br />
5.	Kadangkala seseorang yang berada di majelis  ta’lim mengajari orang lain yang berada di majelis tersebut dengan cara bertanya kepada penceramah, supaya jawaban penjelasan tersebut didengar oleh orang lain yang berada di majelis tersebut. Rasul menyatakan bahwa Jibril-lah yang mengajari para Sahabat, padahal Jibril hanya bertanya, dan Rasul yang menjelaskan.<br />
6.	Iman terhadap taqdir adalah bagian dari rukun Iman. Sebagian orang mengingkari hal itu karena menganggap penyebutan Iman dalam al-Qur’an tidaklah mengikutsertakan iman terhadap taqdir. Hal ini terbantah dengan hadits ini, dan hadits Nabi adalah penjelas alQur’an.</p>
<p>CATATAN KAKI:</p>
<p>5.	Orang-orang musyrikin Quraisy yang menentang dakwah Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wasallam adalah orang-orang yang meyakini Rububiyyah Allah, tapi tidak meyakini Uluhiyyah Allah secara benar. Artinya, mereka meyakini bahwa Allah adalah Pencipta, Penguasa, dan Pengatur mereka satu-satunya, namun mereka tidak mempersembahkan ibadah hanya kepada Allah.<br />
Allah berfirman kepada NabiNya:</p>
<p style="font-size: 35px; font-family: Traditional Arabic; text-align: justify; line-height: 50px; direction: rtl;" dir="rtl">
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ
</p>
<p>Dan jika engkau (Muhammad) bertanya kepada mereka (orang-orang kafir Quraisy): Siapakah yang menciptakan mereka, sungguh-sungguh dan pasti mereka akan menjawab: Allah! Maka bagaimana bisa mereka dipalingkan? (Q.S az-Zukhruf:87).
<p style="font-size: 35px; font-family: Traditional Arabic; text-align: justify; line-height: 50px; direction: rtl;" dir="rtl">
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ
</p>
<p>Dan jika engkau bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan, pasti mereka akan menjawab: Allah! Maka bagaimana bisa mereka dipalingkan? (Q.S al-Ankabuut: 61).
<p style="font-size: 35px; font-family: Traditional Arabic; text-align: justify; line-height: 50px; direction: rtl;" dir="rtl">
قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمْ مَنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ
</p>
<p>Katakanlah (Muhammad) : Siapakah yang memberikan rezeki kepada kalian dari langit dan bumi, dan siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan? Maka mereka akan menjawab: Allah! Maka katakanlah: Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya) (Q.S Yunus: 31).<br />
6.	Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah merangkumkan penjelasan para ‘Ulama terdahulu di antaranya dari kalangan para Sahabat dan tabi’in dalam mendefinisikan thaghut : “ segala sesuatu (makhluk) yang diperlakukan melampaui batas dalam hal disembah(diibadahi), diikuti, dan ditaati”<br />
Segala sesuatu yang disembah selain Allah (dalam keadaan ia ridla) adalah thaghut. Syaithan adalah thaghut. Manusia yang dikultuskan dan diikuti atau ditaati secara mutlak walaupun bertentangan dengan AlQuran dan AsSunnah, dan dia mengajak manusia secara terang-terangan untuk mengikuti penyimpangan dari AlQuran dan as-Sunnah, sehingga menghalalkan yang diharamkan Allah dan mengharamkan yang dihalalkan Allah, maka dia termasuk thaghut.<br />
7.	Contoh sesuatu yang tidak terjadi, bagaimana kalau terjadi:<br />
Allah Maha Mengetahui bahwa orang-orang kafir yang sudah masuk neraka, tidak akan dikembalikan ke dunia. Kalaupun dikembalikan ke dunia, mereka tidak akan beramal sholih seperti yang mereka kemukakan
<p style="font-size: 35px; font-family: Traditional Arabic; text-align: justify; line-height: 50px; direction: rtl;" dir="rtl">
وَلَوْ تَرَى إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُءُوسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ
</p>
<p>Kalau seandainya engkau melihat orang-orang yang berdosa menundukkan kepala mereka di sisi Tuhan mereka, (dan berkata) Wahai Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, kembalikan kami (ke dunia) agar kami bisa beramal sholih, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin (Q.S as-Sajdah: 12)
<p style="font-size: 35px; font-family: Traditional Arabic; text-align: justify; line-height: 50px; direction: rtl;" dir="rtl">
وَلَوْ رُدُّوا لَعَادُوا لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ
</p>
<p>Kalau seandainya mereka dikembalikan ( ke dunia), niscaya mereka akan kembali melakukan hal-hal yang dilarang dan sesungguhnya mereka adalah para pendusta (Q.S al-An’aam:28).<br />
8.	Perbuatan seorang manusia adalah ciptaan Allah juga sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat tersebut. Harus dibedakan antara Pencipta dengan pelaku. Penciptanya adalah Allah, sedangkan pelakunya adalah manusia. Kaidah ini akan memberikan pelajaran sebagai berikut:<br />
a.	Manusia punya kehendak, namun kehendaknya di bawah kehendak Allah.<br />
b.	Manusia punya pilihan (ikhtiyar) untuk berbuat, dan ia tidak dalam keadaan dipaksa.<br />
c.	Manusia yang berbuat kejahatan berhak untuk disalahkan dan mendapatkan hukuman, karena ia adalah pelakunya.<br />
d.	Saat manusia melakukan kemaksiatan kemudian ia tersadar, hendaknya ia tidak larut dalam penyesalan berkepanjangan yang akan mengantarkan pada sikap putus asa dari rahmat Allah. Hal ini karena ia paham bahwa segala sesuatunya telah ditakdirkan Allah, dan apa yang telah diperbuatnya juga adalah bagian dari ciptaan Allah. Ia bertekad untuk tidak melakukan perbuatan kemaksiatannya lagi dengan meminta pertolongan, menjalankan sebab-sebab, dan tawakkal kepada Allah.<br />
e.	Tiada daya dan upaya kecuali atas pertolongan Allah karena Ia adalah Pencipta segala sesuatu.<br />
RUJUKAN :<br />
Jaami’ul Uluum wal Hikaam karya Ibnu Rojab<br />
Syarh al-Arbain anNawawiyyah dari para Ulama’ : Ibnu Daqiiqil ‘Ied, Syaikh Abdurrahman as-Sa’di, Syaikh al-Utsaimin, Syaikh Muhammad Athiyyah Salim, Syaikh Sholih bin Abdil Aziz Aalu Syaikh, Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.salafy.or.id/2012/02/13/hadits-jibril-sebagai-pondasi-islam-dan-iman-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HADITS JIBRIL SEBAGAI PONDASI ISLAM DAN IMAN (2)</title>
		<link>http://www.salafy.or.id/2012/02/10/hadits-jibril-sebagai-pondasi-islam-dan-iman-2/</link>
		<comments>http://www.salafy.or.id/2012/02/10/hadits-jibril-sebagai-pondasi-islam-dan-iman-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Feb 2012 06:34:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.salafy.or.id/?p=4746</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Ustadz Kharisman 4.   Iman kepada para Rasul Allah Beriman bahwa Allah Subhaanahu Wa Ta’ala... <a class="meta-more" href="http://www.salafy.or.id/2012/02/10/hadits-jibril-sebagai-pondasi-islam-dan-iman-2/">selengkapnya <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">Oleh Ustadz Kharisman</p>
<p><strong>4.   </strong><strong>Iman kepada para Rasul Allah</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Beriman bahwa Allah <em>Subhaanahu Wa Ta’ala </em>memilih laki-laki tertentu untuk menjadi utusanNya menyampaikan risalah Allah kepada umat.  Seluruh dakwah para Rasul itu memiliki prinsip/ landasan utama yang sama, yaitu mengajak umat untuk beribadah hanya kepada Allah <em>Subhaanahu Wa Ta’ala </em>dan menjauhi <em>thaghut</em> <strong><sup>6</sup></strong></p>
<p style="font-size: 35px; font-family: Traditional Arabic; text-align: justify; line-height: 50px; direction: rtl;" dir="rtl">وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُوْلاً أَنِ اعْبُدُوْا اللهَ وَاجْتَنِبُوْا الطَّاغُوْتَ</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“ Dan sungguh telah kami utus pada setiap umat Rasul, supaya (menyeru ummatnya agar) menyembah Allah (semata) dan menjauhi thaghut “(Q.S AnNahl :36)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Prinsip utama para Rasul itu adalah sama, yaitu mentauhidkan Allah. Sedangkan rincian syariat masing-masing, seperti tata cara sholat, puasa, dan semisalnya berbeda-beda.</p>
<p style="text-align: justify;">Para Rasul tersebut adalah manusia biasa yang memiliki sifat-sifat/keadaan manusiawi seperti makan, minum, menikah, sakit, dan semisalnya. Mereka tidak berhak untuk mendapatkan bagian untuk disembah/ diibadahi. Namun, para Rasul tersebut haruslah dihormati, dicintai karena Allah, didukung dan diperjuangkan ajarannya, karena mereka dimulyakan Allah dengan wahyuNya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ajaran dan syariat para Rasul sebelum Nabi Muhammad <em>shollallahu ‘alaihi wasallam </em>hanyalah berlaku untuk umat mereka masing-masing, sedangkan syariat Nabi Muhammad <em>shollallaahu ‘alaihi wasallam </em>akan terus berlaku hingga hari kiamat. Syariat Nabi Muhammad <em>shollallaahu ‘alaihi wasallam </em>adalah syariat yang paling sempurna dan terbaik. Beliau adalah penutup para Nabi dan utusan Allah.<strong></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>5.   </strong><strong>Iman kepada Hari Akhir</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Beriman terhadap seluruh tahapan-tahapan peristiwa kehidupan yang akan dijalani manusia setelah meninggal dunia yang dikabarkan dalam alQur’an maupun <em>Sunnah </em>Nabi yang shahihah.<strong></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>6.   </strong><strong>Iman kepada Taqdir </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Beriman bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini adalah sesuai dengan ilmu dan taqdir (ketetapan) dari Allah. Allah Maha Adil dalam menetapkan taqdir-Nya. Allah Maha Bijaksana dalam perbuatan dan pengaturanNya. Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki pasti tidak akan terjadi. Tiada daya dan upaya kecuali atas pertolongan Allah <em>Subhnaanahu Wa Ta’ala.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Para Ulama’ menjelaskan bahwa iman terhadap taqdir meliputi 4 tahapan:</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Beriman bahwa Allah Maha Mengetahui segalanya.</li>
</ol>
<p style="font-size: 35px; font-family: Traditional Arabic; text-align: justify; line-height: 50px; direction: rtl;" dir="rtl">إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (Q.S atTaubah:115)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Allah Maha Mengetahui:</p>
<p style="text-align: justify;">-      Segala sesuatu yang telah terjadi</p>
<p style="text-align: justify;">-      Segala sesuatu yang sedang terjadi</p>
<p style="text-align: justify;">-      Segala sesuatu yang akan terjadi</p>
<p style="text-align: justify;">-      Segala sesuatu yang tidak terjadi, bagaimana kalau terjadi <strong><sup>7</sup></strong></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Beriman bahwa Allah telah menuliskan segala yang akan terjadi di alam semesta 50.000 tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi</li>
</ol>
<p style="line-height: 350%;" align="right"><span style="font-family: 'Traditional Arabic'; font-size: 26px;"><br />
كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Allah menuliskan taqdir-taqdir makhluk 50 ribu tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi (H.R Muslim)</em></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Beriman bahwa segala sesuatu yang terjadi sesuai dengan kehendak Allah.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendakiNya pasti tidak akan terjadi.</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Beriman bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu, termasuk perbuatan hamba <strong><sup>8</sup></strong>.</li>
</ol>
<p style="font-size: 35px; font-family: Traditional Arabic; text-align: justify; line-height: 50px; direction: rtl;" dir="rtl">اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ</p>
<p style="text-align: justify;">     <em>Allah adalah Pencipta segala sesuatu (Q.S az-Zumar:62)</em></p>
<p style="font-size: 35px; font-family: Traditional Arabic; text-align: justify; line-height: 50px; direction: rtl;" dir="rtl">وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ</p>
<p style="text-align: justify;">     <em>Dan Allah yang menciptakan kalian dan perbuatan kalian (Q.S as-Shooffaat:96).</em><em></em></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hadits ini Nabi menyatakan <em>beriman terhadap taqdir baik dan buruknya. </em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Penjelasan :</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Jika kita melihat taqdir sebagai Perbuatan Allah, maka semua taqdir adalah baik. Karena seluruh Perbuatan dan Ketetapan Allah berkisar antara keadilan dan (tambahan) kebaikan (<em>fadhl)</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam lafadz hadits ini Nabi menyebutkan taqdir sebagai ‘baik’ dan ‘buruk’. Hal ini adalah berdasarkan penilaian manusia umum terhadap sesuatu yang menimpanya: jika menyenangkan, maka itu adalah ‘baik’, jika tidak mengenakkan maka itu adalah ‘buruk’.</p>
<p style="text-align: justify;">Contoh yang ‘baik’ adalah: kesehatan, kelapangan rezeki, dan semisalnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Contoh yang ‘buruk’ adalah: sakit, kekurangan harta, musibah, dan semisalnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah menakdirkan sesuatu yang ‘buruk’ dalam penilaian manusia pada hakikatnya memiliki hikmah dan kebaikan yang besar. Contoh: jika seseorang menderita sakit – itu adalah takdir Allah juga- maka penyakit tersebut juga merupakan sarana menghapus dosanya.</p>
<p style="font-size: 35px; font-family: Traditional Arabic; text-align: justify; line-height: 50px; direction: rtl;" dir="rtl">وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Bisa saja kalian membenci sesuatu padahal itu baik bagi kalian, dan bisa saja kalian mencintai sesuatu padahal itu buruk bagi kalian. Allahlah Yang Maha Mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahuinya (Q.S alBaqoroh:216).</em></p>
<p style="text-align: justify;">Seorang mukmin harus meyakini bahwa setiap taqdir dan ketetapan Allah adalah baik dan adil. Rasul menyatakan dalam salah satu doanya:</p>
<p style="line-height: 350%;" align="right"><span style="font-family: 'Traditional Arabic'; font-size: 26px;"><br />
عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8230;(Ya Allah) sungguh adil ketetapanMu&#8230; (H.R Ahmad, dishahihkan oleh al-Hakim, Ibnu Hibban, dan Syaikh al-Albany).</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>IHSAN</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ihsan adalah perbuatan kebaikan. Secara umum, terbagi menjadi 2, yaitu: perbuatan kebaikan kepada Allah dan perbuatan kebaikan kepada hamba Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hadits ini, Rasul <em>Shollallaahu ‘alaihi wasallam </em>menjelaskan jenis ihsan yang terkait dengan Allah. Ihsan kepada Allah dalam beribadah ini terbagi menjadi 2:</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li><em>Maqoomul Musyaahadah </em>: beribadah seakan-akan menyaksikan Allah  .</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Seorang manusia di dunia tidak akan bisa melihat Allah dalam keadaan terjaga. Ia hanya bisa menyaksikan Allah dengan mata kepalanya langsung di akhirat (surga). Namun, dengan penghambaan dan keyakinan yang tinggi ia beribadah sehingga seakan-akan menyaksikan sesuatu yang ghaib menjadi nyata. Ia merasa beribadah dengan berdiri di hadapan Allah dan melihat Allah.  Sebagian Ulama’ menyatakan: seakan-akan ia menyaksikan Allah dengan hatinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada tingkatan ini perasaan yang menonjol adalah perasaan cinta dan pengagungan terhadap Allah.</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li><em>Maqoomul murooqobah </em>: beribadah dengan perasaan selalu diawasi oleh Allah.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Pada tingkatan ini perasaan yang menonjol adalah perasaan menghinakan diri dan takut kepada Allah</p>
<p style="text-align: justify;">Tingkatan yang pertama (<em>maqoomul musyaahadah) </em>lebih tinggi kedudukannya dibandingkan tingkatan yang kedua <em>(maqoomul murooqobah)</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hadits Jibril ini dijelaskan bahwa Dien ini terbagi menjadi 3 tingkatan: Islam, Iman, dan Ihsan. Penyebutan Islam dalam hadits ini lebih ke arah perbuatan lahiriah, sedangkan Iman adalah pada amalan batin (keyakinan). Ihsan merupakan tingkatan yang tertinggi.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Tanda-tanda Hari Kiamat</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hadits ini Nabi menyebutkan 2 tanda hari kiamat:</p>
<p style="text-align: justify;">(i)   Budak wanita melahirkan tuannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagian ulama’ mengartikan: <em>Demikian buruknya keadaan menjelang datangnya kiamat itu sehingga kedurhakaan anak terhadap orang tua menjadi banyak dan tersebar. Sehingga karena saking durhakanya, sang anak seakan-akan memperlakukan ibunya bagaikan budak.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Sebagian ulama’ lain mengartikan: <em>akan banyak terjadi pembukaan wilayah kaum muslimin melalui jihad, dan banyak ditawan budak-budak wanita. Di antara budak tersebut</em> <em>ada yang melahirkan anak tuannya.Kedudukan anak tersebut terhadap ibunya adalah bagaikan tuannya karena seorang anak yang dinisbatkan kepada ayahnya.</em></p>
<p style="text-align: justify;">(ii)  Seseorang yang tidak beralas kaki, telanjang (kurang pakaian), penggembala kambing, berlomba-lomba meninggikan bangunan</p>
<p style="text-align: justify;">Artinya:</p>
<p style="text-align: justify;">Keadaan nantinya akan berbalik, orang-orang yang berada pada strata ekonomi bawah dan tinggal di pedalaman, akan menguasai wilayah perkotaan dan menjadi para pemimpin/ penguasa, dan mereka berlomba-lomba meninggikan bangunan untuk bermegah-megahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Secara umum, para Ulama’ membagi tanda-tanda hari kiamat menjadi 3 macam:</p>
<p style="text-align: justify;">(i)   Tanda yang telah terjadi</p>
<p style="text-align: justify;">Contoh: diutusnya Nabi Muhammad <em>shollallahu ‘alaihi wasallam.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Rasul bersabda:</p>
<p style="line-height: 350%;" align="right"><span style="font-family: 'Traditional Arabic'; font-size: 26px;"><br />
</span></p>
<p style="line-height: 350%;" align="right"><span style="font-family: 'Traditional Arabic'; font-size: 26px;"><br />
&gt;بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةَ كَهَذِهِ مِنْ هَذِهِ أَوْ كَهَاتَيْنِ وَقَرَنَ بَيْنَ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>(dekatnya waktu) antara saat diutusnya aku dengan hari kiamat adalah bagaikan 2 (jari) ini. Rasul menggandengkan jari telunjuk dan jari tengahnya (H.R alBukhari dari Sahl bin Sa’d as-Saa’idi)</em></p>
<p style="text-align: justify;">(ii)  Tanda yang mulai nampak dan akan terus bertambah</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti dua tanda yang disebutkan dalam hadits ini. Demikian juga tanda-tanda: kematian para ulama’, tersebarnya kebodohan, banyaknya pembunuhan, tersebarnya zina dan riba, banyak keluarnya wanita yang bersolek, dan semisalnya.</p>
<p style="text-align: justify;">(iii)         Tanda yang baru muncul saat benar-benar mendekati hari kiamat.</p>
<p style="text-align: justify;">Contoh: keluarnya Dajjal, turunnya Isa, keluarnya al-Mahdi, keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, matahari terbit dari barat, dan semisalnya. Jenis yang ke-3 ini disebut juga dengan tanda-tanda kiamat besar..<strong>.(Insya Allah Bersambung)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.salafy.or.id/2012/02/10/hadits-jibril-sebagai-pondasi-islam-dan-iman-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HADITS JIBRIL SEBAGAI PONDASI ISLAM DAN IMAN (1)</title>
		<link>http://www.salafy.or.id/2012/02/08/hadits-jibril-sebagai-pondasi-islam-dan-iman-1/</link>
		<comments>http://www.salafy.or.id/2012/02/08/hadits-jibril-sebagai-pondasi-islam-dan-iman-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Feb 2012 03:06:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.salafy.or.id/?p=4719</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Ustadz Kharisman بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ... <a class="meta-more" href="http://www.salafy.or.id/2012/02/08/hadits-jibril-sebagai-pondasi-islam-dan-iman-1/">selengkapnya <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">Oleh Ustadz Kharisman</p>
<p style="line-height: 350%;" align="right"><span style="font-family: 'Traditional Arabic'; font-size: 26px;">بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعَرِ لَا يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلَا يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنْ الْإِسْلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنْ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلًا قَالَ صَدَقْتَ قَالَ فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ الْإِيمَانِ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ قَالَ صَدَقْتَ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ الْإِحْسَانِ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ السَّاعَةِ قَالَ مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنْ السَّائِلِ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَتِهَا قَالَ أَنْ تَلِدَ الْأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِي الْبُنْيَانِ قَالَ ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا ثُمَّ قَالَ لِي يَا عُمَرُ أَتَدْرِي مَنْ السَّائِلُ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>(Dari Umar bin alKhottob) : ‘Ketika kami sedang berada di samping Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam pada suatu hari tiba-tiba muncul di hadapan kami seorang laki-laki yang pakaiannya sangat putih, rambutnya sangat hitam, tidak nampak padanya tanda safar, dan kami tidak ada yang mengenalnya. Kemudian orang itu duduk (mendekati) Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam menyandarkan lututnya pada lutut Nabi dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua paha Nabi dan berkata: Wahai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam. Maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Islam itu adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhaq disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, dan engkau menegakkan sholat, menunaikan zakat, shoum (berpuasa) pada bulan Ramadlan, dan berhaji ke baitullah jika engkau mampu melakukan perjalanan ke sana. Orang itu berkata: Engkau benar. (Umar berkata) Kami</em><em> heran dengan orang tersebut, ia bertanya tapi ia yang membenarkan. (Orang itu) berkata: Beritahukan kepadaku apakah iman itu? Nabi berkata: engkau beriman kepada Allah, MalaikatNya, kitab-kitabNya, Rasul-rasulNya, hari akhir, dan beriman kepada taqdir baik dan buruknya. (Orang itu) berkata: Engkau benar. Kemudian ia berkata: Beritahukan kepadaku apakah ihsan itu? Nabi bersabda: Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya. Jika engkau tidak bisa melihatnya, sesungguhnya Ia melihatmu. (Kemudian orang itu berkata) Beritahukan kepadaku tentang hari kiamat (kapan terjadinya). Nabi menyatakan: Tidaklah yang ditanya lebih tahu dibandingkan orang yang bertanya. (Orang itu berkata) Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya. Nabi bersabda: Budak wanita melahirkan tuannya, dan engkau melihat orang yang tidak beralas kaki, telanjang (kurang pakaiannya), miskin, penggembala kambing, berlomba-lomba meninggikan bangunan. Kemudian orang itu pergi. Setelah berlalunya waktu, Nabi berkata: Wahai Umar, tahukah engkau siapa orang yang bertanya tadi? Umar menjawab: Allah dan RasulNya yang lebih tahu. Nabi menyatakan: itu adalah Jibril, datang untuk mengajari agama kepada kalian (H.R Muslim)</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PENJELASAN SECARA UMUM:</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>          </strong>Hadits ini menceritakan bahwa Malaikat Jibril pernah datang kepada Nabi dalam bentuk seorang laki-laki yang tidak dikenal para Sahabat. Para Sahabat menyaksikan itu. Laki-laki tersebut sangat putih pakaiannya, sangat hitam rambutnya, bertanya kepada Nabi dan membenarkan setiap jawaban Nabi. Hal itu mengherankan Sahabat.</p>
<p style="text-align: justify;">          Keheranan para Sahabat karena 3 hal:</p>
<p style="text-align: justify;">(i)   Para Sahabat tidak ada yang mengenal orang tersebut, tapi ia tidak tampak sebagai seorang musafir. Karena biasanya seorang musafir pada waktu itu pakaiannya kusut dan rambutnya juga berdebu, namun orang ini sangat putih pakaiannya dan sangat hitam rambutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">(ii)  Orang tersebut terlihat sangat akrab dengan Nabi dengan duduk menyandarkan lututnya pada lutut Nabi.</p>
<p style="text-align: justify;">(iii)         Ia bertanya, tapi ia pula yang membenarkan jawabannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Jibril kemudian bertanya tentang :</p>
<p style="text-align: justify;">(i)   (Rukun) Islam</p>
<p style="text-align: justify;">(ii)  (Rukun) Iman</p>
<p style="text-align: justify;">(iii)        Ihsan</p>
<p style="text-align: justify;">(iv) Kapan hari kiamat</p>
<p style="text-align: justify;">(v)  Apa tanda-tanda hari kiamat</p>
<p style="text-align: justify;">Satu pertanyaan (tentang kapan hari kiamat) dijawab Nabi dengan jawaban: <em>Tidaklah yang ditanya lebih tahu dari yang bertanya. </em>Artinya, hanya Allah saja yang tahu.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah orang tersebut pergi, barulah Nabi menyatakan kepada Umar bahwa ia adalah Jibril, datang dalam rangka mengajarkan agama kepada para Sahabat Nabi.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PADATNYA KANDUNGAN MAKNA HADITS</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Hadits ini disebut juga dengan <em>hadits Jibril, </em>hadits yang agung, sangat padat kandungan makna dan faidahnya. Al-Imam alQurthuby menyebutnya sebagai <em>Ummus Sunnah </em>(induk Sunnah). Untuk menjelaskan secara detail, tidaklah bisa ditampung oleh <em>syarah </em>yang ringkas. Bisa saja ditulis 1 buku khusus menjelaskan makna hadits ini, bahkan lebih dari itu.</p>
<p style="text-align: justify;">          Syaikh Muhammad bin <em>Sholih </em>al-Utsaimin dalam menjelaskan hadits ini di Syarh Riyaadhis Shoolihiin, ketika ditranskrip butuh 61 halaman. Sedangkan Syaikh<em> </em>Abdul Muhsin al-Abbad penjelasannya mencapai 81 halaman. Taufiq Umar Siyyaadiy mengumpulkan faidah (pelajaran-pelajaran) yang bisa diambil dari hadits ini menjadi 77 buah.</p>
<p style="text-align: justify;">          Namun, pada artikel kita ini hanya akan diambil beberapa hal yang penting. Berupa penjelasan ringkas tentang rukun iman dan tentang <em>ihsan</em>, tanda-tanda hari kiamat, serta pelajaran-pelajaran yang bisa diambil dalam hadits ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>RUKUN IMAN</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>          </strong>Pada pembahasan ini tidak dikaji tentang rukun Islam, namun langsung pada rukun Iman karena rukun Islam akan dibahas pada penjelasan hadits ke-3, InsyaAllah.</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li><strong>1.   </strong><strong>Iman kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala</strong></li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Iman kepada Allah mencakup:</p>
<p style="text-align: justify;">(a)  Beriman bahwa Allah ada.</p>
<p style="text-align: justify;">(b)  Beriman terhadap <em>Rububiyyah </em>Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Meyakini bahwa Allah <em>Subhaanahu Wa Ta’ala </em>adalah satu-satunya Pencipta, Penguasa, dan Pengatur alam semesta beserta segenap isinya.</p>
<p style="text-align: justify;">(c)  Beriman terhadap <em>Asma’ WasSifat </em>Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Meyakini bahwa Allah <em>Subhaanahu Wa Ta’ala </em>memiliki Nama-nama dan Sifat-Sifat yang mulya, agung, pada puncak kesempurnaan. Nama-nama dan Sifat-Sifat tersebut ditetapkan sesuai dengan yang Allah tetapkan dalam alQur’an, atau melalui lisan Rasul <em>shollallaahu ‘alaihi wasallam </em>dalam Sunnahnya. Segala Nama dan Sifat Allah yang terdapat dalam alQuran atau Sunnah yang shahihah harus ditetapkan dan diimani tanpa menyamakan dengan makhlukNya, tanpa memalingkan makna/ lafadznya kepada bentuk lain, dan tanpa bertanya bagaimana atau seperti apa bentuk dan ciri-cirinya, dan pertanyaan semisalnya.</p>
<p style="text-align: justify;">(d)  Beriman terhadap <em>Uluhiyyah </em>Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Meyakini bahwa segala bentuk persembahan ibadah makhluk harus diserahkan hanya kepada Allah <em>Subhaanahu Wa Ta’ala </em>semata<em>. </em>Segala jenis ibadah: sholat, <em>puasa, </em>doa, <em>tawakkal, </em>nadzar, ketundukan, kepasrahan jiwa sepenuhnya, penyembelihan yang dikurbankan, dan semisalnya, harus dipersembahkan untuk Allah <em>Subhaanahu Wa Ta’ala </em>saja. Tidak boleh ada sesuatupun yang berserikat dalam hal tersebut. <strong><sup>5</sup></strong></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li><strong>2.   </strong><strong>Iman kepada Malaikat</strong></li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Beriman akan adanya Malaikat sebagai makhluk Allah yang tercipta dari cahaya, tidak pernah bermaksiat selalu menjalankan ibadah kepada Allah tanpa jemu. Di antara mereka ada yang Allah serahi tugas khusus, seperti: memikul <em>‘Arsy</em>, mencabut nyawa, mencatat amalan, dan semisalnya. Sebagian ada yang disebutkan secara khusus nama-nama dan tugasnya dalam alQuran atau hadits yang shohih, seperti Jibril, Mikail, dan lain-lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Hanya Allah saja yang tahu jumlah mereka</p>
<p style="line-height: 350%;" align="right"><span style="font-family: 'Traditional Arabic'; font-size: 26px;"> وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَ</span></p>
<p style="text-align: justify;">     <em>Dan tidak ada yang tahu (jumlah) pasukan Tuhanmu kecuali Dia… (Q.S al-Muddatstsir:31)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dalil yang menunjukkan sangat banyaknya jumlah Malaikat, di antaranya:</p>
<p style="line-height: 350%;" align="right"><span style="font-family: 'Traditional Arabic'; font-size: 26px;">&#8230;فَرُفِعَ لِي الْبَيْتُ الْمَعْمُورُ فَسَأَلْتُ جِبْرِيلَ فَقَالَ هَذَا الْبَيْتُ الْمَعْمُورُ يُصَلِّي فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ إِذَا خَرَجُوا لَمْ يَعُودُوا إِلَيْهِ&#8230;</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8230;(pada saat Isra’ Mi’raj), kemudian aku dinaikkan ke al-Baitul Ma’mur (sebuah tempat di langit). Kemudian aku bertanya kepada Jibril tentang tempat itu. Jibril berkata: Ini adalah al-Baitul Ma’mur, setiap hari 70.000 Malaikat sholat di dalamnya. Kalau sudah keluar, mereka tidak akan pernah kembali “ (H.R alBukhari dan Muslim</em><em> dari Anas bin Sho’sho’ah</em><em>).</em></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li><strong>3.   </strong><strong>Iman kepada Kitab Allah</strong></li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Beriman bahwa Allah telah menurunkan kitab atau <em>shuhuf  </em>(lembaran-lembaran) kepada para Rasul. Kitab tersebut adalah berisi wahyu Allah sebagai petunjuk bagi manusia.</p>
<p style="font-size: 35px; font-family: Traditional Arabic; text-align: justify; line-height: 50px; direction: rtl;" dir="rtl">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah kepada Allah, Rasul-Nya, dan kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kufur (mengingkari) Allah, Malaikat, Kitab-kitab, Rasul-rasul, dan hari akhir, maka ia telah sesat dengan kesesatan yang nyata (Q.S anNisaa’: 136).</em></p>
<p style="text-align: justify;">Allah ‘menurunkan’ kitab bisa dalam bentuk pemberian kitab langsung tertulis, sebagaimana kitab <em>Taurat, </em>atau berupa wahyu yang disampaikan kepada Malaikat kemudian Malaikat menyampaikan kepada para Rasul, sebagaimana kitab-kitab yang lain. Seorang mukmin harus menyakini bahwa wahyu yang tertulis dalam kitab-kitab tersebut adalah <em>Kalam </em>(Ucapan) Allah secara hakiki.</p>
<p style="text-align: justify;">Kitab-kitab yang diturunkan kepada Rasul sebelum Nabi Muhammad <em>shollallaahu ‘alaihi wasallam </em>di antaranya adalah <em>Taurat, Injil, Zabur, Shuhuf </em>Ibrahim, <em>Shuhuf </em>Musa<em>. </em>Kitab-kitab tersebut saat ini tidak aman dari perubahan (penambahan dan pengurangan) sehingga isinya tidak bisa diamalkan saat ini. Isinya hanya berlaku untuk umat pada waktu diutusnya Rasul tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Hanya al-Qur’anlah yang selamat dari berbagai penyimpangan dan perubahan. Isi alQuran adalah petunjuk bagi seluruh umat manusia dari sejak diturunkan hingga hari kiamat. AlQuran adalah penyempurna bagi kitab-kitab sebelumnya&#8230;.<strong>(Insya Allah Bersambung)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.salafy.or.id/2012/02/08/hadits-jibril-sebagai-pondasi-islam-dan-iman-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KETINGGIAN ALLAH DI ATAS MAKHLUK SELURUHNYA (4)</title>
		<link>http://www.salafy.or.id/2012/02/07/ketinggian-allah-di-atas-makhluk-seluruhnya-4/</link>
		<comments>http://www.salafy.or.id/2012/02/07/ketinggian-allah-di-atas-makhluk-seluruhnya-4/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Feb 2012 04:54:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.salafy.or.id/?p=4699</guid>
		<description><![CDATA[OLeh Ustadz Kharisman Pada artikel kali ini, kami akan melanjutkan bab tentang KETINGGIAN ALLAH DI... <a class="meta-more" href="http://www.salafy.or.id/2012/02/07/ketinggian-allah-di-atas-makhluk-seluruhnya-4/">selengkapnya <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>OLeh Ustadz Kharisman</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pada artikel kali ini, kami akan melanjutkan bab tentang KETINGGIAN ALLAH DI ATAS MAKHLUK SELURUHNYA (3) yang sudah kami tampilkan pekan lalu.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>dali yang Keenambelas: </strong><em>Nash-nash </em>tentang<em> </em>penyebutan ‘Arsy dan sifatnya, dan seringnya di<em>idhafahkan</em> kepada Penciptanya yaitu Allah Subhaanahu Wa Ta’ala yang berada di atasnya. Seperti disebutkan dalam ayat-ayat AlQur’an:</p>
<p style="font-size: 35px; font-family: Traditional Arabic; text-align: justify; line-height: 50px; direction: rtl;" dir="rtl">{رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ} [النمل: 26]</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Rabb Arsy yang Agung..”(Q.S AnNaml:126).</em></p>
<p style="font-size: 35px; font-family: Traditional Arabic; text-align: justify; line-height: 50px; direction: rtl;" dir="rtl">{وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ * ذُو الْعَرْشِ الْمَجِيدُ *} [البروج: 14 - 15]</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“ Dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Yang Memiliki Arsy yang mulya “(Q.S alBuruuj:14-15).</em></p>
<p style="font-size: 35px; font-family: Traditional Arabic; text-align: justify; line-height: 50px; direction: rtl;" dir="rtl">{رَفِيعُ الدَّرَجَاتِ ذُو الْعَرْشِ} [غافر: 15]<em> </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“(Allah)lah Yang Mengangkat derajat-derajat, yang memiliki ‘Arsy” (Q.S Ghafir:15).</em></p>
<p style="text-align: justify;">Penyebutan bahwa Allah istiwa’ di atas ‘Arsy telah dikemukakan dalam sisi pendalilan kesepuluh di atas.</p>
<p style="line-height: 350%;" align="right"><span style="font-family: 'Traditional Arabic'; font-size: 26px;">عنْ أبي هريرةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم: «إِذَا سَأَلْتُمُ اللهَ فاسْأَلُوهُ الفِرْدَوسَ فإنَّهُ أوسطُ الجنَّةِ، وأعلى الجنَّةِ، وفوقَهُ عرشُ الرَّحْمنِ»</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Dari Abu Hurairah –semoga Allah meridlainya- beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: Jika kalian meminta kepada Allah, mintalah Firdaus karena sesungguhnya ia adalah tengah-tengah Jannah, dan Jannah yang paling tinggi. Di atasnya adalah ‘Arsy ArRahmaan” (H.R al-Bukhari).</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ketujuhbelas: </strong>Aqidah Nabi-nabi sebelumnya secara tegas menunjukkan bahwa Allah Ta’ala berada di atas. Hal ini sebagaimana dakwah Nabi Musa kepada Fir’aun, tetapi Fir’aun menentangnya. Sebagaimana dikisahkan dalam AlQur’an:</p>
<p style="font-size: 35px; font-family: Traditional Arabic; text-align: justify; line-height: 50px; direction: rtl;" dir="rtl">{وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَاهَامَانُ ابْنِ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَبْلُغُ الأَسْبَابَ *} {أَسْبَابَ السَّمَاوَاتِ فَأَطَّلِعَ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لأََظُنُّهُ كَاذِبًا} [غافر: 36 – 37[</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Dan berkatalah Fir'aun: "Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta (Q.S Ghafir/Mu’min: 36-37).</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Jarir atThobary menyatakan: <em>maksud ucapan (Fir’aun): Sesungguhnya aku memandangnya sebagai pendusta, artinya: Sesungguhnya aku mengira Musa berdusta terhadap ucapannya yang mengaku bahwasanya di atas langit ada Tuhan yang mengutusnya </em>(Lihat tafsir AtThobary (21/387)).</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah menyatakan:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Maka Fir’aun mendustakan Musa dalam pengkhabarannya bahwa Rabbnya berada di atas langit… (I’laamul Muwaqqi’in juz 2 halaman 317).</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kedelapanbelas: </strong>Pensucian Allah terhadap diriNya bahwa Ia terjauhkan dari segala aib, cela dan kekurangan maupun penyerupaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Imam Ahmad <em>rahimahullah </em>ketika membantah Jahmiyyah, beliau berdalil dengan ayat-ayat AlQur’an yang menunjukkan bahwa setiap penyebutan keadaan ‘rendah’ selalu dalam konteks celaan. Setelah menyebutkan dalil-dalil bahwa Allah berada di atas ketinggian, beliau menyatakan:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Maka ini adalah khabar dari Allah. Allah mengkhabarkan kepada kita bahwa Ia berada di atas langit. Dan kami dapati segala sifat rendah sebagai tercela. Sebagaimana firman Allah:</em></p>
<p>إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada <strong>tingkatan yang paling bawah </strong>dari neraka..” (Q.S AnNisaa’: 145).</em></p>
<p style="font-size: 35px; font-family: Traditional Arabic; text-align: justify; line-height: 50px; direction: rtl;" dir="rtl">وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا رَبَّنَا أَرِنَا الَّذَيْنِ أَضَلَّانَا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ نَجْعَلْهُمَا تَحْتَ أَقْدَامِنَا لِيَكُونَا مِنَ الْأَسْفَلِينَ</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Dan orang-orang kafir berkata: "Ya Rabb kami perlihatkanlah kepada kami dua jenis orang yang telah menyesatkan kami (yaitu) sebagian dari jinn dan manusia agar kami letakkan keduanya <strong>di bawah telapak kaki</strong> kami supaya kedua jenis itu menjadi orang-orang yang hina</em>" (Q.S Fusshilat:29)</p>
<p style="text-align: justify;">(Lihat <em>ArRadd ‘alal Jahmiyyah waz Zanaadiqoh </em>karya Imam Ahmad bin Hanbal <em>halaman 147).</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Batthoh juga menyatakan: <em>Tuhan kita Allah Ta’ala mencela keadaan rendah dan memuji yang tinggi. </em>Sebagaimana dalam firmanNya:</p>
<p style="font-size: 35px; font-family: Traditional Arabic; text-align: justify; line-height: 50px; direction: rtl;" dir="rtl">كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْأَبْرَارِ لَفِي عِلِّيِّينَ<em>  </em><em></em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu (tersimpan) dalam 'Illiyyin”.(Q.S al-Muthoffifiin: </em>18).<em></em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>’Illiyyin adalah langit ke tujuh... </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Dan Allah Ta’ala juga menyatakan:</em></p>
<p style="font-size: 35px; font-family: Traditional Arabic; text-align: justify; line-height: 50px; direction: rtl;" dir="rtl">كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْفُجَّارِ لَفِي سِجِّينٍ</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin”(Q.S al-Muthoffifiin:7) </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Sijjin yaitu lapisan bumi yang terbawah. </em>(Lihat Ucapan Ibnu Batthoh tersebut dalam kitab al-Ibaanah juz 3 halaman 142-143).</p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah, beberapa sisi pendalilan yang bisa kami sebutkan dalam tulisan ini. Pada tiap sisi pendalilan, terkandung banyak dalil dari AlQur’an maupun hadits yang shahih.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>AQIDAH PARA SAHABAT NABI: ALLAH BERADA DI ATAS LANGIT</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah dikemukakan sisi-sisi pendalilan berdasarkan AlQur’an dan hadits-hadits yang shahih, berikut ini akan disebutkan ucapan-ucapan para Sahabat Nabi –<em>ridlwaaanullaahi ‘alaihim ajmaiin- </em>tentang keyakinan bahwa Allah berada di atas ‘ArsyNya atau di atas langit:</p>
<p style="text-align: justify;">1) Abu Bakr as-Shiddiq <em>radliyallaahu ‘anhu</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Rasulullah <em>shollallaahu ‘alaihi wasallam </em>meninggal, Abu Bakr As-Shiddiq menyatakan:</p>
<p style="line-height: 350%;" align="right"><span style="font-family: 'Traditional Arabic'; font-size: 26px;">أيها الناس ! إن كان محمد إلهكم الذي تعبدون فإن إلهكم قد مات ، وإن كان إلهكم الذي في السماء فإن إلهكم لم يمت ، ثم تلا   (وما محمد إلا رسول قد خلت من قبله الرسل أفإن مات أو قتل انقلبتم على أعقابكم)  حتى ختم الآية</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“ Wahai sekalian manusia! Jika Muhammad adalah sesembahan kalian yang kalian sembah, sesungguhnya sesembahan kalian telah mati. <strong>Jika sesembahan kalian adalah Yang berada di atas langit, maka sesungguhnya sesembahan</strong><strong> kalian</strong></em><strong><em> tidak akan mati.</em></strong><em> Kemudian Abu Bakr membaca firman Allah:</em></p>
<p style="font-size: 35px; font-family: Traditional Arabic; text-align: justify; line-height: 50px; direction: rtl;" dir="rtl">وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“ dan tidaklah Muhammad kecuali seorang Rasul, telah berlalu sebelumnya para Rasul. Apakah jika ia meninggal atau terbunuh kalian akan berbalik ke belakang(murtad)…”(Q.S Ali Imran:144). </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Sampai Abu Bakar menyelesaikan bacaan ayat tersebut”(</em>diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam <em>Mushonnaf</em>nya pada Bab <em>Maa Ja-a fii wafaatin Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam </em>nomor hadits 37021, al-Bazzar di dalam Musnadnya juz 1 halaman 183).</p>
<p style="text-align: justify;">Riwayat perkataan Abu Bakr As-Shiddiq tersebut adalah shahih. Abu Bakr bin Abi Syaibah meriwayatkan dari Muhammad bin Fudhail dari ayahnya dari Nafi’ dari Ibnu Umar. Semua perawi tersebut (termasuk Abu Bakr bin Abi Syaibah yang merupakan guru Imam al-Bukhari) adalah <em>rijal </em>(perawi) al-Bukhari.</p>
<p style="text-align: justify;">2)      Abdullah bin Mas’ud</p>
<p style="text-align: justify;">Sahabat Nabi Ibnu Mas’ud menyatakan:</p>
<p style="line-height: 350%;" align="right"><span style="font-family: 'Traditional Arabic'; font-size: 26px;">ما بين السماء الدنيا والتي تليها مسيرة خمسمائة عام ، وبين كل سماءين مسيرة خمسمائة عام ، وبين السماء السابعة وبين الكرسي خمسمائة عام ، وبين الكرسي إلى الماء خمسمائة عام ، والعرش على الماء ، والله تعالى فوق العرش ، وهو يعلم ما أنتم عليه</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“ Antara langit dunia dengan (langit) berikutnya sejauh perjalanan 500 tahun, dan antara 2 langit sejauh perjalanan 500 tahun, antara langit ke-7 dengan al-Kursiy 500 tahun, antara al-Kursiy dengan air 500 tahun, dan ‘Arsy di atas air, dan Allah Ta’ala di atas ‘Arsy dalam keadaan Dia Maha Mengetahui apa yang terjadi pada kalian” (diriwayatkan oleh Ad-Daarimi dalam kitab ArRaddu ‘alal Jahmiyyah bab Maa Bainas Samaa-id Dunya wallatii taliiha juz 1 halaman 38 riwayat nomor 34).</em></p>
<p style="text-align: justify;">Riwayat perkataan Ibnu Mas’ud ini shohih. AdDaarimi meriwayatkan dari jalur Musa bin Isma’il dari Hammad bin Salamah dari ‘Ashim dari Zir (bin Hubaisy) dari Ibnu Mas’ud. Semua perawinya adalah <em>rijaal </em>al-Bukhari.</p>
<p style="text-align: justify;">3)      Zainab bintu Jahsy</p>
<p style="line-height: 350%;" align="right"><span style="font-family: 'Traditional Arabic'; font-size: 26px;">عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه أَنَّ زَيْنَبَ بِنت جَحْشٍ كَانَتْ تَفْخَرُ عَلَى أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم تَقُولُ: «زَوَّجَكُنَّ أَهَالِيكُنَّ وَزَوَّجَنِي اللهُ تَعَالَى مِنْ فَوْقِ سَبْعِ سماوات» وفي لفظٍ: كانتْ تقولُ: «إِنَّ اللهَ أَنْكَحَنِي فِي السَّمَاءِ»</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Dari Anas –semoga Allah meridlainya- bahwa Zainab binti Jahsy berbangga terhadap istri-istri Nabi yang lain, ia berkata: “Kalian dinikahkah oleh keluarga kalian sedangkan aku dinikahkan oleh Allah dari atas tujuh langit”. Dalam lafadz lain beliau berkata: Sesungguhnya Allah telah menikahkan aku di atas langit (H.R al-Bukhari).</em></p>
<p style="text-align: justify;">4)      Abdullah bin Abbas (Ibnu Abbas)</p>
<p style="text-align: justify;">Sahabat Nabi yang merupakan penterjemah AlQur’an ini, ketika menafsirkan firman Allah tentang ucapan Iblis yang akan mengepung manusia dari berbagai penjuru. Iblis menyatakan sebagaimana diabadikan oleh Allah dalam AlQur’an:</p>
<p style="font-size: 35px; font-family: Traditional Arabic; text-align: justify; line-height: 50px; direction: rtl;" dir="rtl">{ثُمَّ لآَتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ} [الأعراف: 17]</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Kemudian sungguh-sungguh aku akan mendatangi mereka dari arah depan mereka, dan dari belakang mereka, dan dari kanan dan kiri mereka” (Q.S al-A’raaf:17).</em></p>
<p style="text-align: justify;">Abdullah bin Abbas menyatakan:</p>
<p style="line-height: 350%;" align="right"><span style="font-family: 'Traditional Arabic'; font-size: 26px;"><br />
لم يستطعْ أنْ يقولَ: منْ فوقهم؛ عَلِمَ أنَّ الله منْ فوقهم</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“ Iblis tidak bisa mengatakan : (mendatangi mereka) dari atas mereka, karena dia tahu bahwa Allah berada di atas mereka (diriwayatkan oleh AlLaa-likaa-i dalam Syarh Ushulis Sunnah halaman 661 dengan sanad yang hasan).</em></p>
<p style="text-align: justify;">5)      Abdullah bin Umar</p>
<p style="line-height: 350%;" align="right"><span style="font-family: 'Traditional Arabic'; font-size: 26px;">عن زيدِ بنِ أَسْلَمٍ قالَ: مَرَّ ابنُ عمرُ براعٍ فقال: هلْ منْ جَزَرَةٍ؟ فقالَ: ليسَ هاهنا ربُّها، قالَ ابنُ عمر: تقولُ لهُ: أكلَهَا الذئبُ. قالَ: فرفَعَ رأسَهُ إلى السَّماءِ وقالَ: فَأَيْنَ اللهُ؟ فقالَ ابنُ عمر: أنا واللهُ أحقُّ أنْ أقولَ: أَيْنَ اللهُ؟ واشترى الراعي والغنمَ، فأعتقهُ، وأعطاهُ الغنمَ</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Dari Zaid bin Aslam beliau berkata: Ibnu Umar melewati seorang penggembala (kambing), kemudian beliau bertanya: apakah ada kambing yang bisa disembelih? Penggembala itu menyatakan: Pemiliknya tidak ada di sini. Ibnu Umar menyatakan: Katakan saja bahwa kambing tersebut telah dimangsa serigala. Kemudian penggembala kambing tersebut menengadahkan pandangannya ke langit dan berkata: Kalau demikian, di mana Allah? Maka Ibnu Umar berkata: Aku, Demi Allah, lebih berhak untuk berkata: Di mana Allah? Sehingga kemudian Ibnu Umar membeli penggembala dan kambingnya, memerdekakan penggembala tersebut dan memberikan padanya satu kambing itu” (diriwayatkan oleh Adz-Dzahaby dalam kitab al-‘Uluw halaman 860, dan Syaikh Muhammad Nashiruddin menyatakan bahwa sanad hadist ini jayyid (baik)).</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>           </em>Demikianlah, sedikit penjelasan dalil-dalil dari AlQur’an dan AsSunnah yang shohihah yang menunjukkan bahwa Allah Ta’ala berada di atas ‘Arsy, di atas langit, di atas seluruh makhlukNya. Telah dikemukakan pula beberapa ucapan para Sahabat Nabi yang <em>shorih </em>(tegas) tentang aqidah tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga Allah <em>Subhaanahu Wa Ta’ala </em>senantiasa melimpahkan hidayahNya kepada kita semua <strong></strong><em> </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.salafy.or.id/2012/02/07/ketinggian-allah-di-atas-makhluk-seluruhnya-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dauroh &#8220;“Ukhuwah Islamiyah di atas Al Quran dan As Sunnah&#8221; di Bandung (18/02/2012)</title>
		<link>http://www.salafy.or.id/2012/02/07/dauroh-bandung/</link>
		<comments>http://www.salafy.or.id/2012/02/07/dauroh-bandung/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Feb 2012 22:47:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dauroh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.salafy.or.id/?p=4686</guid>
		<description><![CDATA[Bismillah Alhamdulillah, DAUROH ILMIYAH ISLAMIYAH 2 HARI DI KOTA BANDUNG.. Menghadirkan: AL USTADZ AL FADHIL... <a class="meta-more" href="http://www.salafy.or.id/2012/02/07/dauroh-bandung/">selengkapnya <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bismillah<br />
Alhamdulillah, DAUROH ILMIYAH ISLAMIYAH 2 HARI DI KOTA BANDUNG..</p>
<p>Menghadirkan:<br />
AL USTADZ AL FADHIL LUQMAN BIN MUHAMMAD BA’ABDUH Hafidzahullah</p>
<p>Hari ke-1<br />
Jum’at, 24 Rabiul Awwal 1433H/ 17 Februari 2012<br />
Ba’da Ashr s/d Selesai<br />
Ma’had Adhwa’Us Salaf Bandung<br />
“SOLUSI DARI BERBAGAI FITNAH”</p>
<p>Hari ke-2<br />
Sabtu, 25 Rabiul Awwal 1433H/ 18 Februari 2012<br />
09.00 s/d Ashr<br />
Masjid Agung Al Ukhuwah Balai Kota Bandung<br />
“UKHUWAH ISLAMIYAH DI ATAS AL QUR’AN &amp; AS SUNNAH TIDAK YANG LAIN, ANARKHISME BUKAN CARA YANG DIBENARKAN DALAM ISLAM”</p>
<p>Live Streaming:<br />
<a href="http://www.radioshohabat.com"> www.radioshohabat.com</a></p>
<p>Web Support:<br />
<a href="http://www.adhwaus-salaf.or.id"> www.adhwaus-salaf.or.id</a></p>
<p>Informasi:</p>
<p>081394411295/<br />
085294965919</p>
<p>Silahkan Ajak Keluarga Besar, Saudara Jauh, Tetangga satu Kampung dan Sahabat Dekat Kita untuk bersama-sama hadir dalam Dauroh Ilmiyah ini..</p>
<p>Barokallahufiikum</p>
<p>NB:<br />
KHUTBAH JUM’AT DI MA’HAD ADHWAUS SALAF PADA TANGAL 24 RABIUL AWWAL BERSAMA AL USTADZ LUQMAN</p>
<p><a href="http://www.salafy.or.id/2012/02/07/dauroh-bandung/al-ustadz-al-fadhil-luqman-bin-muhammad-baabduh/" rel="attachment wp-att-4687"><img class="aligncenter size-full wp-image-4687" title="Al Ustadz Al Fadhil Luqman bin Muhammad Ba'abduh" src="http://www.salafy.or.id/wp-content/uploads/2012/02/Al-Ustadz-Al-Fadhil-Luqman-bin-Muhammad-Baabduh.jpg" alt="" width="738" height="524" /></a></p>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.salafy.or.id/2012/02/07/dauroh-bandung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KETINGGIAN ALLAH DI ATAS SELURUH MAKHLUK-NYA (3)</title>
		<link>http://www.salafy.or.id/2012/02/06/ketinggian-allah-di-atas-seluruh-makhluk-nya-iii/</link>
		<comments>http://www.salafy.or.id/2012/02/06/ketinggian-allah-di-atas-seluruh-makhluk-nya-iii/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Feb 2012 06:23:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.salafy.or.id/?p=4670</guid>
		<description><![CDATA[OLeh Ustadz Kharisman Pada artikel kali ini, kami akan melanjutkan bab tentang KETINGGIAN ALLAH DI... <a class="meta-more" href="http://www.salafy.or.id/2012/02/06/ketinggian-allah-di-atas-seluruh-makhluk-nya-iii/">selengkapnya <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>OLeh Ustadz Kharisman</strong></p>
<p>Pada artikel kali ini, kami akan melanjutkan bab tentang KETINGGIAN ALLAH DI ATAS MAKHLUK SELURUHNYA (II) yang sudah kami tampilkan pekan lalu.</p>
<p><strong>dalil yang Kesembilan: </strong>Persaksian Nabi bahwa seorang budak wanita yang ditanya di mana Allah, kemudian menjawab Allah di atas langit sebagai wanita beriman.</p>
<p>Sesuai dengan hadits Mu’awiyah bin al-Hakam:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="line-height: 350%;" align="right"><span style="font-family: 'Traditional Arabic'; font-size: 26px;"><br />
فَقَالَ لَهَا: «أَيْنَ اللهُ؟»، قَالَتْ: فِي السَّمَاءِ. قَالَ: «مَنْ أَنَا؟»، قَالَتْ: أَنْتَ رَسُولُ اللهِ. قَالَ: «أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤمِنَةٌ</span></p>
<p><em>“ Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya: Di mana Allah? Dia menjawab: di atas langit. Rasul bertanya: Siapa saya? Wanita itu menjawab: engkau adalah utusan Allah. Maka Nabi bersabda: ‘Bebaskan dia, karena dia adalah seorang (wanita) beriman” (H.R Muslim).</em></p>
<p>Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Imam Asy-Syafi’i di dalam kitab al-‘Umm juz 5 halaman 298. Mengenai periwayatan Imam Asy-Syafi’i tersebut Imam Abu Utsman Ash-Shoobuny menyatakan di dalam kitabnya ‘<em>Aqidatus Salaf Ashaabul Hadiits</em>:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="line-height: 350%;" align="right"><span style="font-family: 'Traditional Arabic'; font-size: 26px;">وإنما احتج الشافعي رحمة الله عليه على المخالفين في قولهم بجواز إعتاق الرقبة الكافرة بهذا الخبر ، لاعتقاده أن الله سبحانه فوق خلقه ، وفوق سبع سماواته على عرشه ، كما معتقد المسلمين من أهل السنة والجماعة ، سلفهم وخلفهم ، إذ كان رحمه الله لا يروي خبرا صحيحا ثم لا يقول به . وقد أخبرنا الحاكم أبو عبد الله رحمه الله قال أنبأنا الإمام أبو الوليد حسان بن محمد الفقيه قال حدثنا إبراهيم بن محمود قال سمعت الربيع بن سليمان يقول سمعت الشافعي رحمه يقول : إذا رأيتموني أقول قولا وقد صح عن النبي صلى الله عليه وسلم خلافه فاعلموا أن عقلي قد ذهب</span></p>
<p><em>Asy-Syafi’i –semoga rahmat Allah atasnya- berhujjah terhadap para penentang yang menyatakan bolehnya memerdekakan budak kafir dengan khabar (hadits) ini karena keyakinan beliau bahwa Allah Subhaanahu Wa Ta’ala di atas makhluk-makhlukNya, dan di atas tujuh langit di atas ‘ArsyNya sebagaimana keyakinan kaum muslimin Ahlussunnah wal Jama’ah baik yang terdahulu maupun kemudian, karena beliau (Asy-Syafi’i) tidaklah meriwayatkan khabar (hadits) yang shahih kemudian tidak berpendapat dengan (hadits) tersebut. Telah mengkhabarkan kepada kami al-Haakim Abu Abdillah rahimahullah (dia berkata) telah mengkhabarkan kepada kami Abul Waliid Hasaan bin Muhammad al-Faqiih (dia berkata) telah memberitakan kepada kami Ibrahim bin Mahmud dia berkata aku mendengar ArRabi’ bin Sulaiman berkata: Aku mendengar Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: Jika kalian melihat aku mengucapakan suatu ucapan sedangkan (hadits) yang shahih dari Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam bertentangan dengannya, maka ketahuilah bahwasanya akalku telah pergi. </em></p>
<p><em>            </em>Jika ada yang bertanya: Siapa Abu Utsman Ash-Shobuuny sehingga dia bisa tahu maksud ucapan Imam Asy-Syafi’i? Maka kita jawab: Abu Utsman Ash-Shoobuny adalah salah seorang ulama’ bermadzhab Asy-Syafi’i (sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafidz Adz-Dzahaby dalam <em>Siyaar A’laamin Nubalaa’</em>). Imam Al-Baihaqy menyatakan tentang Abu Utsman Ash-Shobuuny:</p>
<p style="line-height: 350%;" align="right">
<p><em>“Imam kaum muslimin yang sebenarnya, dan Syaikhul Islam yang sejujurnya”(</em>Lihat <em>Siyaar A’laamin Nubalaa’ juz 18 halaman 41).</em></p>
<p>Kami kemukakan ucapan Imam al-Baihaqy di sini karena para penentang Ahlussunnah banyak memanfaatkan ketergeliciran Imam al-Baihaqy dalam memahami Asma’ Was-Sifat.</p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Kesepuluh: </strong>Penjelasan bahwa Allah ber-<em>istiwa’ </em>di atas ‘Arsy. Lafadz <em>istiwa</em>’ diikuti dengan penghubung على sehingga bermakna ‘tinggi di atas’ ‘Arsy.</p>
<p>Sebagaimana disebutkan dalam AlQur’an pada 8 tempat pada surat: Al-A’raaf:54, Yunus: 3, Yusuf:100, Ar-Ra’d:2, Thaha:5, al-Furqaan:59, As-Sajdah:4, al-Hadid:4. Para Ulama menjelaskan bahwa ‘Arsy adalah makhluk Allah yang terbesar dan tertinggi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kesebelas: </strong>Nabi mengisyaratkan ke atas saat meminta persaksian kepada Allah.</p>
<p>Sebagaimana disebutkan dalam hadits Jabir riwayat Muslim yang mengisahkan kejadian pada Haji Wada’:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="line-height: 350%;" align="right"><span style="font-family: 'Traditional Arabic'; font-size: 26px;">وَأَنْتُمْ تُسْأَلُونَ عَنِّي فَمَا أَنْتُمْ قَائِلُونَ قَالُوا نَشْهَدُ أَنَّكَ قَدْ بَلَّغْتَ وَأَدَّيْتَ وَنَصَحْتَ فَقَالَ بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَةِ يَرْفَعُهَا إِلَى السَّمَاءِ وَيَنْكُتُهَا إِلَى النَّاسِ اللَّهُمَّ اشْهَدْ اللَّهُمَّ اشْهَدْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>“(Nabi bersabda) “Dan kalian akan ditanya tentang aku, apa yang akan kalian katakan? Para Sahabat berkata: ‘Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan, menunaikan (amanah), dan menyampaikan nasihat’. Maka Nabi mengisyaratkan dengan mengangkat jari telunjuknya ke langit mengetuk-ngetukkannya ke hadapan manusia (dan berkata) Ya Allah persaksikanlah (3 kali)(H.R Muslim).</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Keduabelas: </strong>Disunnahkannya seorang yang berdoa menengadahkan tangan menghadap ke atas</p>
<p>Sebagaimana dalam hadits Umar bin al-Khottob yang mengisahkan kejadian pada perang Badr:</p>
<p style="line-height: 350%;" align="right"><span style="font-family: 'Traditional Arabic'; font-size: 26px;">اسْتَقْبَلَ نَبِيُّ اللهِ صلى الله عليه وسلم الْقِبْلَةَ ثُمَّ مَدَّ يَدَيْهِ فَجَعَلَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ: «اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي، اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِي، اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الإِسْلاَمِ لاَ تُعْبَدْ فِي الأَرْضِ</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>“Nabiyullah shollallaahu ‘alaihi wasallam menghadap kiblat kemudian menengadahkan tangannya dan berteriak kepada Rabb-nya: Ya Allah tunaikanlah apa yang Engkau janjikan untukku, Ya Allah berikanlah apa yang Engkau janjikan untukku, Ya Allah jika Engkau membinasakan kelompok ini dari Ahlul Islam, Engkau tidak akan disembah di bumi” (H.R Muslim).</em></p>
<p style="line-height: 350%;" align="right"><span style="font-family: 'Traditional Arabic'; font-size: 26px;">عنْ سلمانَ رضي الله عنه قالَ: قالَ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: «إنَّ الله حَيِيٌّ كريمٌ، يَسْتَحْيِي إذا رَفَعَ الرَّجُلُ إليهِ يَدَيْهِ أن يَرُدَّهُما صُفْرًا خَائِبَتَيْنِ</span></p>
<p> <em>Dari Salman –semoga Allah meridlainya- beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya Allah Yang Pemalu lagi Mulya. Dia malu jika seseorang mengangkat kedua tangan ke arahNya kemudian Allah mengembalikan kedua tangan itu dalam keadaan nol sia-sia (H.R atTirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh alAlbaany).</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Ketigabelas: </strong>Penjelasan bahwa penduduk Jannah akan melihat Wajah Rabb-Nya</p>
<p>Para Ulama’ menjelaskan bahwa salah satu dalil yang menunjukkan ketinggian Allah adalah bisa dilihatnya Allah nanti oleh penduduk Jannah.</p>
<p>Rasulullah <em>shollallaahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="line-height: 350%;" align="right"><span style="font-family: 'Traditional Arabic'; font-size: 26px;">عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ البجليِّ رضي الله عنه قَالَ: كُنَّا جُلُوسًا لَيْلَةً مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَنَظَرَ إِلَى الْقَمَرِ ليلَةَ أَرْبَعَ عَشْرَةَ، فَقَالَ: «إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هذَا لاَ تُضَامُونَ فِي رُؤْيَتِهِ</span></p>
<p><em>Dari Jarir bin Abdillah al-Bajaliy –semoga Allah meridlainya- beliau berkata: “Kami duduk pada suatu malam bersama Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam kemudian beliau melihat pada bulan pada malam tanggal 14 beliau bersabda: ‘Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian sebagaimana kalian melihat (bulan) ini, tidaklah berdesakan dalam melihatnya” (H.R al-Bukhari dan Muslim).</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Keempatbelas: </strong>Penjelasan tentang turunnya Allah Subhaanahu Wa Ta’ala ke langit dunia setiap sepertiga malam yang terakhir.</p>
<p style="line-height: 350%;" align="right"><span style="font-family: 'Traditional Arabic'; font-size: 26px;">عن أبي هريرةَ رضي الله عنه قالَ: قالَ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: «يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرِ، فَيَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ؟ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ؟»</span></p>
<p><em>Dari Abu Hurairah –semoga Allah meridlainya- beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tuhan kita Tabaaroka Wa Ta’ala turun ke langit dunia tiap malam ketika telah tersisa sepertiga malam, kemudian Dia berkata: Siapakah yang akan berdoa kepadaku, Aku akan kabulkan. Siapa yang meminta kepadaku Aku akan beri, siapa yang memohon ampunan kepadaku, Aku akan ampuni”(H.R al-Bukhari dan Muslim, hadits yang mutawatir).</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Kelimabelas: </strong>Khabar dari Nabi <em>shollallaahu ‘alaihi wasallam </em>bahwa beliau pada waktu Isra’ Mi’raj setelah mendapatkan perintah sholat bolak-balik ketika berpapasan dengan Musa kembali naik menuju Allah untuk meminta keringanan bagi umatnya. Demikian terjadi beberapa kali. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits:</p>
<p style="line-height: 350%;" align="right"><span style="font-family: 'Traditional Arabic'; font-size: 26px;">عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: «&#8230; أَوْحَى اللهُ إِلَيَّ مَا أَوْحَى فَفَرَضَ عَلَيَّ خَمْسِينَ صَلاَةً فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ. فَنَزَلْتُ إِلَى مُوسَى صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: مَا فَرَضَ رَبُّكَ عَلَى أُمَّتِكَ؟ قُلْتُ: خَمْسِينَ صَلاَةً. قَالَ: ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ، فَإِنَّ أُمَّتَكَ لاَ يُطِيقُونَ ذَلِكَ. فَإِنِّي قَدْ بَلَوْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَخَبَرْتُهُمْ. قَالَ: فَرَجَعْتُ إِلَى رَبِّي فَقُلْتُ: يَا رَبِّ! خَفِّفْ عَلَى أُمَّتِي. فَحَطَّ عَنِّي خَمْسًا. فَرَجَعْتُ إِلَى مُوسَى فَقُلْتُ: حَطَّ عَنِّي خَمْسًا. قَالَ: إِنَّ أُمَّتَكَ لاَ يُطِيقُونَ ذَلِكَ فَارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ. قَالَ: فَلَمْ أَزَلْ أَرْجِعُ بَيْنَ رَبِّي تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَبَيْنَ مُوسَى عليه السلام حَتَّى قَالَ: يَا مُحَمَّدُ! إِنَّهُنَّ خَمْسُ صَلَوَاتٍ كُلَّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ. لِكُلِّ صَلاَةٍ عَشْرٌ. فَذَلِكَ خَمْسُونَ صَلاَةً&#8230; قَالَ: فَنَزَلْتُ حَتَّى انْتَهَيْتُ إِلَى مُوسَى صلى الله عليه وسلم فَأَخْبَرْتُهُ فَقَالَ: ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ. فَقُلْتُ: قَدْ رَجَعْتُ إِلَى رَبِّي حَتَّى اسْتَحْيَيْتُ مِنْهُ»</span></p>
<p><em>Dari Anas bin Malik –semoga Allah meridlainya- beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “….Allah mewahyukan kepadaku apa yang Ia wahyukan. Maka Ia mewajibkan kepadaku 50 sholat sehari semalam. Maka aku turun menuju Musa shollallaahu ‘alaihi wasallam, kemudian ia berkata: Apa yang Rabbmu wajibkan bagi umatmu? Aku berkata: 50 sholat. Musa berkata: kembalilah pada Tuhanmu, mintakanlah padanya keringanan, karena sesungguhnya umatmu tidak akan mampu melakukannya. Karena sesungguhnya aku telah mencoba Bani Israil dan aku mengerti keadaan mereka. Rasululullah berkata: Maka aku kembali kepada Tuhanku dan berkata: Wahai Tuhanku, ringankanlah untuk umatku. Maka dihapuskan dariku 5 sholat. Kemudian aku kembali ke Musa dan berkata: Telah dihapuskan (dikurangi) untukku 5 sholat. Musa berkata: sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup, kembalilah pada Tuhanmu dan mintakanlah keringanan. Nabi bersabda: Senantiasa aku bolak-balik antara Tuhanku Tabaroka Wa Ta’ala dengan Musa ‘alaihis salaam sampai Allah berfirman: Wahai Muhammad sesungguhnya kewajiban sholat tersebut adalah 5 kali sehari semalam. Setiap sholat dilipatgandakan 10 kali. Maka yang demikian adalah (senilai) 50 sholat…..Nabi bersabda: Maka kemudian aku turun sampai pada Musa shollallaahu ‘alaihi wasallam, maka aku khabarkan kepadanya. Musa berkata: Kembalilah pada Rabmu dan mintakanlah keringanan. Maka aku (Rasulullah) berkata: Aku telah kembali pada Rabku, sampai aku merasa malu padaNya” (H.R al-Bukhari dan Muslim, lafadz sesuai riwayat Muslim).</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.salafy.or.id/2012/02/06/ketinggian-allah-di-atas-seluruh-makhluk-nya-iii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitabut Tauhid Bab  Hal-hal Terkait Ruqyah dan Tamimah</title>
		<link>http://www.salafy.or.id/2012/02/01/kitabut-tauhid-bab-hal-hal-terkait-ruqyah-dan-tamimah/</link>
		<comments>http://www.salafy.or.id/2012/02/01/kitabut-tauhid-bab-hal-hal-terkait-ruqyah-dan-tamimah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 07:23:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.salafy.or.id/?p=4601</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Al Ustadz Khasrisman (Disampaikan pada kajian Jumat malam Sabtu ba’da Maghrib 08 Januari 2009... <a class="meta-more" href="http://www.salafy.or.id/2012/02/01/kitabut-tauhid-bab-hal-hal-terkait-ruqyah-dan-tamimah/">selengkapnya <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Oleh Al Ustadz Khasrisman<br />
(Disampaikan pada kajian Jumat malam Sabtu ba’da Maghrib 08 Januari 2009 di Surau Thariqul Jannah jalan Cokroaminoto Probolinggo)</p>
<h2 style="text-align: justify;">Dalil ke-1:</h2>
<p style="line-height: 350%; text-align: right;" align="right"><span style="font-family: 'Traditional Arabic'; font-size: 26px;"><br />
في الصحيح عن أبي بشير الأنصاري رضي الله عنه أنه كان مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في بعض أسفاره، فأرسل رسولاً: &#8220;أن لا يُبقين في رقبة بعير قلادة من وَتَر، أو قلادة إلاَّ قُطِعت<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hadits yang shahih dari Abu Basyir al-Anshory –semoga Allah meridlainya- bahwasanya ia pernah bersama Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam pada sebagian safar beliau, kemudian Rasul mengutus utusan (untuk menyampaikan perintah) : ‘Jangan biarkan ada kalung dari tali busur panah di leher unta, atau kalung (apapun) kecuali diputus/ dipotong’</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sumber Periwayatan Hadits</strong><br />
Hadits ini adalah muttafaqun ‘alaih, diriwayatkan oleh alBukhari dan Muslim</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sebab Larangan</strong><br />
Para Ulama’ menyebutkan 3 sebab larangan tersebut:<br />
1. Keyakinan bahwa dengan mengalungkan tali busur panah di leher unta tersebut bisa menolak ‘ain.<br />
Ini adalah pendapat Imam Malik bin Anas (riwayat Muslim).<br />
Dalilnya adalah hadits Uqbah bin ‘Amir yang marfu’ riwayat Abu Dawud</p>
<p style="text-align: justify;">2. Tali busur panah yang dikalungkan tersebut menyakitkan bagi unta.<br />
Ini adalah Muhammad bin al-Hasan, Sahabat Abu Hanifah.</p>
<p style="text-align: justify;">3. Sesuatu yang dikalungkan tersebut adalah lonceng. Terdapat larangan mengalungkan lonceng pada hewan. AlHafidz menyatakan bahwa sepertinya Imam al-Bukhari cenderung pada pendapat ini sehingga menamakan bab diletakkannya hadits tersebut dengan : Apa yang dikatakan tentang lonceng dan semisalnya pada leher unta.</p>
<p style="text-align: justify;">(Lihat Penjelasan tentang hal tersebut dalam Kasyful Musykil min Hadiitsi ash-Shahihain juz 1 halaman 451 karya Ibnul Jauzi, dan Fathul Baari karya al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolaany juz 6 halaman 142).</p>
<p style="text-align: justify;">Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad menyatakan bahwa sebab larangan tersebut bisa jadi mencakup 3 hal itu sekaligus (Syarh Sunan Abi Dawud ).</p>
<p style="text-align: justify;">Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab meletakkan hadits ini dalam bab ini karena kesesuaian dengan pendapat Imam Malik di atas.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Malik bin Anas menyatakan bahwa sebab larangan tersebut adalah mereka suka mengalungkan (tali busur panah) di leher unta untuk menolak bahaya ‘ain (bahaya seperti penyakit atau semisalnya yang disebabkan oleh pandangan mata, pent.)(Penjelasan Imam Malik tersebut bisa dilihat pada Shahih Muslim juz 11 halaman 33 hadits ke 3951 bab karoohatu qilaadati watr fii roqobati ba’iir).</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi Muhammad Shollallaahu ‘alaihi wasallam melarang hal tersebut untuk menghilangkan aqidah-aqidah yang batil dari para Sahabatnya, dan supaya mereka memurnikan tawakkal dan keyakinannya kepada Allah bahwa tidak ada sesuatupun yang bisa mencegah dan menghilangkan marabahaya kecuali Allah Subhanaahu Wa Ta’ala.<br />
Sesuatu yang dikalungkan pada hewan bukanlah penghalang dari marabahaya, bukan pula sesuatu yang Allah jadikan sebab untuk menghilangkan atau mencegah marabahaya.</p>
<p style="font-size: 35px; font-family: 'Traditional Arabic'; line-height: 50px; direction: rtl; text-align: justify;" dir="rtl">وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (الأنعام:17)</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu</em> <strong>(Q.S al-An’aam:17)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
<h2 style="text-align: justify;">Dalil ke-2:</h2>
<p style="line-height: 350%; text-align: right;" align="right"><span style="font-family: 'Traditional Arabic'; font-size: 26px;"><br />
وَعَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَْيهْ ِوَسَلَّمَ يَقُوْلُ : إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ</span></p>
<p style="line-height: 350%; text-align: right;" align="right"><span style="font-family: 'Traditional Arabic'; font-size: 26px;"> رواه أحمد وأبو داود<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;">Dari Ibnu Mas’ud: Aku mendengar Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: <em>Sesungguhnya ruqyah, tamimah, dan tiwalah adalah syirik</em> <strong>(riwayat Ahmad dan Abu Dawud)</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Derajat Hadits</strong><br />
Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Hibban, al-Hakim.</p>
<p style="text-align: justify;">Shahih, dishahihkan oleh : Ibnu Hibban, al-Hakim menyatakan bahwa sanadnya shahih berdasarkan syarat al-Bukhari dan Muslim(disepakati oleh adz-Dzahaby), dishahihkan pula oleh Syaikh al-Albany dalam Silsilah al-Ahaadits as-Shahiihah (1/648)).</p>
<p style="text-align: justify;">Riwayat dari Ibnu Hibban dan al-Hakim adalah shohih, namun riwayat Ahmad dan Abu Dawud dilemahkan oleh sebagian ulama’. Di dalamnya terdapat perawi yang mubham sekaligus majhul yaitu anak saudara laki-laki Zainab istri Ibnu Mas’ud. Sebagaimana hal itu diisyaratkan oleh Ibnul Mundzir.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kisah Terkait Hadits Tersebut</strong><br />
Diriwayatkan oleh al-Hakim kisah sebagai berikut:</p>
<p style="line-height: 350%; text-align: right;" align="right"><span style="font-family: 'Traditional Arabic'; font-size: 26px;">عَنْ زَيْنَبَ امْرَأَةِ عَبْدِ اللَّهِ، أَنَّهَا أَصَابَهَا حُمْرَةٌ فِي وَجْهِهَا، فَدَخَلَتْ عَلَيْهَا عَجُوزٌ، فَرَقَتْهَا فِي خَيْطٍ، فَعَلَّقَتْهُ عَلَيْهَا، فَدَخَلَ ابْنُ مَسْعُودٍ- رضي الله عنه- فَرَآهُ عَلَيْهَا، فَقَالَ: مَا هَذَا؟ فَقَالَتْ: اسْتَرْقَيْتُ مِنَ الْحُمْرَةِ، فَمَدَّ يَدَهُ فَقَطَعَهَا، ثُمّ قَالَ: إِنَّ آلَ عَبْدِ اللَّهِ لأَغْنِيَاءُ عَنِ الشِّرْكِ، قَالَتْ: ثُمَّ قَالَ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ- صلى الله عليه وسلم- حَدَّثَنَا: &#8220;إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتَّوْلِيَةَ شِرْكٌ&#8221; قَالَ: فَقُلْتُ: مَا التَّوْلِيَةُ؟ قَالَ: التَّوْلِيَةُ: هُوَ الَّذِي يُهَيِّجُ الرِّجَالَ<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;">Dari Zainab istri Abdullah (Ibnu Mas’ud), bahwasanya ia terkena al-humroh (sejenis penyakit) pada wajahnya. Kemudian masuklah seorang wanita tua ke tempatnya. Kemudian wanita tua itu meruqyah pada sebuah benang dan diikatkan pada (tangan)nya. Kemudian Ibnu Mas’ud –semoga Allah meridlainya- melihatnya dan bertanya: Apa ini? Kemudian (istrinya) berkata: Aku minta diruqyah karena terkena al-humroh. Kemudian Ibnu Mas’ud menjulurkan tangannya dan memotong benang (pada tangan istrinya) tersebut. Kemudian ia berkata: Sesungguhnya keluarga Abdullah (Ibnu Mas’ud) sangat-sangat tidak butuh dari (yang mengandung) kesyirikan. Kemudian beliau menyatakan: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam telah mengkhabarkan kepada kita : Sesungguhnya ruqyah, tamiimah, dan tawliyah adalah syirik. Kemudian aku (Zainab) berkata: apa tawliyah itu? Beliau berkata: Ia adalah sesuatu yang membangkitkan (perasaan cinta) laki-laki (diriwayatkan oleh al-Hakim dan beliau menyatakan bahwa hadits tersebut sanadnya shahih sesuai syarat al-Bukhari dan Muslim, dan disepakati oleh adz-Dzahaby).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Penjelasan tentang Ruqyah, Tamimah, dan Tiwalah yang Merupakan Kesyirikan</strong><br />
1. Ruqyah<br />
Ruqyah adalah lafadz-lafadz tertentu yang dibacakan kepada orang sakit dengan keyakinan sebagai penyebab kesembuhan.<br />
Ruqyah tidak seluruhnya merupakan kesyirikan. Dalam sebuah hadits disebutkan:</p>
<p style="line-height: 350%; text-align: right;" align="right"><span style="font-family: 'Traditional Arabic'; font-size: 26px;">عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الْأَشْجَعِيِّ قَالَ كُنَّا نَرْقِي فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَرَى فِي ذَلِكَ فَقَالَ اعْرِضُوا عَلَيَّ رُقَاكُمْ لَا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ شِرْكٌ<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;">Dari Auf bin Malik al-‘Asyja’i beliau berkata: Kami dulu biasa meruqyah di masa Jahiliyyah, maka kami berkata: Wahai Rasulullah,bagaimana pendapat anda tentang hal itu? Nabi bersabda: <em>Tunjukkan padaku ruqyah-ruqyah kalian. Tidak mengapa ruqyah selama tidak mengandung kesyirikan</em> <strong>(riwayat Muslim).</strong><br />
Al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqolaany berkata:</p>
<p style="line-height: 350%; text-align: right;" align="right"><span style="font-family: 'Traditional Arabic'; font-size: 26px;">قد أجمع العلماء على جواز الرقى عند اجتماع ثلاثة شروط أن يكون بكلام الله أو بأسمائه وصفاته وباللسان العربي وبما يعرف معناه وأن يعتقد أن الرقية لا تؤثر بذاتها بل بتقدير الله<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;">Para Ulama telah sepakat tentang bolehnya ruqyah jika terkumpul 3 syarat: (i) Bacaan berupa Kalaamullah (AlQur’an) atau dengan Nama-namaNya dan Sifat-SifatNya, (ii) dengan bahasa Arab yang dikenal maknanya, (iii) Berkeyakinan bahwa ruqyah tidak memberikan pengaruh dengan sendirinya tapi dengan taqdir Allah (Fathul Baari juz 10 halaman 195).</p>
<p style="text-align: justify;">2. Tamimah<br />
Tamimah adalah sesuatu yang dikalungkan, diikatkan pada tangan, dipakai sebagai sabuk, diselipkan pada kopyah, atau digantungkan di dekat pintu rumah, pada mobil, atau semisalnya dengan anggapan bahwa ia adalah sebab dalam mencegah bahaya atau mendatangkan kemanfaatan. (Disarikan dari penjelasan Syaikh Sholih bin Abdil Aziz Aalu Syaikh dalam atTamhiid lisyarhi Kitaabit Tauhid). Dalam bahasa Indonesia banyak disebut dengan ‘jimat’.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika tamimah yang dikalungkan tersebut berupa AlQur’an, terdapat perbedaan pendapat dari para Sahabat Nabi,<br />
Pendapat pertama : boleh.<br />
Yang berpendapat demikian adalah : Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash dan riwayat dari ‘Aisyah</p>
<p style="text-align: justify;">Pendapat yang memperbolehkan mengalungkan/ memakai sesuatu sebagai semacam tamimah ini dengan syarat:<br />
1. Berupa ayat-ayat al-Quran<br />
2. Berupa kalimat-kalimat yang ditulis dalam bahasa Arab, bukan ‘ajam (bahasa non Arab) dan bukan dengan tulisan yang tidak bisa dibaca<br />
3. Berkeyakinan bahwa kesembuhan dari Allah, bukan dari sesuatu yang digantungkan tersebut.<br />
(Lihat I’anatul Mustafiid bisyarhi Kitaabit Tauhid karya Syaikh Sholih al-Fauzan juz 1 halaman 269).<br />
4. Dipakai bukan untuk mencegah sesuatu yang belum terjadi, tapi sebagai bentuk pengobatan terhadap hal yang sedang diderita.<br />
Tambahan syarat yang ke-4 ini adalah pendapat dari Aisyah –radliyallaahu ‘anha- dan dikuti oleh Imam Malik.<br />
Sedangkan ‘Aisyah berpendapat bahwa yang termasuk kategori tamimah (yang dilarang Nabi) adalah yang dipakai untuk mencegah datangnya musibah (bahaya atau penyakit). Jika dipakai setelah terkena musibah, seperti dipakai oleh orang yang sakit untuk meredakan rasa sakitnya, karena yang dikalungkan berisi AlQuran (untuk mengharapkan keberkahan), maka tidak mengapa.<br />
Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Aisyah:</p>
<p style="line-height: 350%; text-align: right;" align="right"><span style="font-family: 'Traditional Arabic'; font-size: 26px;">التَّمَائِمُ مَا عُلِّقَ قَبْلَ نُزُوْلِ الْبَلاَءِ وَ مَا عُلِّقَ بَعْدَهُ فَلَيْسَ بِتَمِيْمَةٍ<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;">Tamimah (yang terlarang ) itu adalah yang dikalungkan sebelum datangnya bala’ (musibah), sedangkan yang dikalungkan setelahnya bukanlah tamimah (riwayat al-Hakim dalam al-Mustadrak dishahihkan olehnya dan disepakati oleh adz-Dzahaby).<br />
Terkait poin syarat yang kedua, bahwa harus berupa kalimat-kalimat / untaian kata-kata dalam bahasa Arab, sesuatu yang digantungkan tersebut tidak boleh berupa huruf-hurf yang terpotong (meskipun ia adalah huruf Arab).<br />
Disebutkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqolaany:</p>
<p style="line-height: 350%; text-align: right;" align="right"><span style="font-family: 'Traditional Arabic'; font-size: 26px;">وسئل بن عبد السلام عن الحروف المقطعة فمنع منها ما لا يعرف لئلا يكون فيها كفر<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu AbdisSalaam ditanya tentang huruf-huruf yang terpotong, maka ia melarangnya selama tidak diketahui (maknanya), agar tidak (terjerumus) pada kekufuran (Fathul Baari juz 10 halaman 197).</p>
<p style="text-align: justify;">Pendapat Kedua: Tidak Boleh.<br />
Tidak diperbolehkan menggantungkan sesuatu semisal jimat, baik yang tertulis adalah AlQuran atau bukan.<br />
Ini adalah pendapat Sahabat Nabi Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Hudzaifah Ibnul Yaman, ‘Uqbah bin ‘Amir, dan Ibnu Ukaim.<br />
Alasan tidak diperbolehkannya perbuatan tersebut:<br />
1. Larangan Nabi dalam hadits tersebut bersifat umum.</p>
<p style="text-align: justify;">2. Sebagai upaya saddun lidzdzari’ah (menutup pintu untuk mencegah terjadinya hal-hal lain yang mengarah pada larangan atau kemudharatan yang lebih besar).<br />
Jika pada awalnya hanya diperbolehkan untuk yang berisi ayat-ayat al-Quran, secara berangsur-angsur manusia akan terseret untuk bermudah-mudahan, sehingga diperbolehkan juga tulisan-tulisan yang tidak mengandung AlQur’an. Selain itu, hal tersebut bisa dijadikan sekedar kedok untuk menutupi kesyirikan. Kebanyakan tamimah adalah sesuatu yang terbungkus rapat dan terjahit dengan kuat dan tidak terlihat apa yang ada di dalamnya. Ketika seseorang menggunakan tamimah yang tidak mengandung AlQur’an, dia bisa mengelak dan mengatakan bahwa di dalamnya adalah AlQuran. Atau, bisa saja, seseorang mengurungkan niatnya untuk memberikan nasihat kepada seseorang yang memakai tamimah, sekedar karena ia berpikiran: ‘mungkin tulisan yang ada di dalamnya adalah Al-Qur’an’, padahal sebenarnya bukan (disarikan dari penjelasan Syaikh Sholih bin Abdil Aziz Aalu Syaikh dalam atTamhiid lisyarhi Kitaabit Tauhid).</p>
<p style="text-align: justify;">3. Mengalungkan atau menggantungkan sesuatu dari AlQuran mengandung unsur merendahkan derajat AlQuran dari kadar yang semestinya. AlQuran diturunkan Allah untuk dibaca, bukan untuk dikalungkan pada sesuatu. Lebih-lebih jika digantungkan pada anak kecil (sebagaimana yang diriwayatkan dari perbuatan Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash), peluang terhinakannya ayat-ayat al-Quran lebih besar. Sulit menjaga anak kecil untuk tidak mengotori sesuatu yang dikalungkan tersebut dari air liurnya, kebiasaannya yang bermain-main di tempat yang basah dan kotor, dan semisalnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pendapat kedua ini adalah pendapat yang rajih (lebih kuat).</p>
<p style="text-align: justify;">4. Tiwalah/ Tawliyah<br />
Tiwalah adalah sesuatu yang dipakai untuk semakin menambah perasaan cinta seorang istri kepada suaminya, dan sebaliknya. Sebagaimana dijelaskan dalam riwayat Ibnu Hibban dalam Shahihnya. Padahal tiwalah tersebut bukanlah sebab syar’i maupun qodari.<br />
Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin memberikan contoh, tukar cincin sepasang suami istri yang disertai dengan keyakinan bahwa selama cincin itu masih melekat pada kedua mempelai, akan mempererat jalinan hubungan keduanya. (Lihat al-Qoulul Mufiid syarh Kitaabit Tauhid).<br />
Syariat dalam Islam sangat menganjurkan hal-hal yang bisa semakin merekatkan hubungan dan meningkatkan perasaan cinta kasih di antara suami istri, namun hal-hal itu tidak ditempuh dengan hal-hal yang mengandung unsur kesyirikan, kebid’ahan, maupun kemaksiatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Wallaahu Ta’ala A’lam Bisshowaab</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.salafy.or.id/2012/02/01/kitabut-tauhid-bab-hal-hal-terkait-ruqyah-dan-tamimah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>FATWA SYAIKH AR-RAJIHI TENTANG KEKAFIRAN DAN KEMURTADAN</title>
		<link>http://www.salafy.or.id/2012/01/31/fatwa-syaikh-ar-rajihi-tentang-kekafiran-dan-kemurtadan-2/</link>
		<comments>http://www.salafy.or.id/2012/01/31/fatwa-syaikh-ar-rajihi-tentang-kekafiran-dan-kemurtadan-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Jan 2012 04:49:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatwa-Fatwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.salafy.or.id/?p=4563</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Ustadz Kharisman Pertanyaan : Kapan terjadi kufur akbar atau kemurtadan (keluar dari Islam)? Apakah... <a class="meta-more" href="http://www.salafy.or.id/2012/01/31/fatwa-syaikh-ar-rajihi-tentang-kekafiran-dan-kemurtadan-2/">selengkapnya <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Oleh Ustadz Kharisman</p>
<p style="text-align: justify;">Pertanyaan : Kapan terjadi kufur akbar atau kemurtadan (keluar dari Islam)? Apakah hal itu khusus terkait dengan keyakinan (i’tiqad) , penentangan, dan pendustaan saja atau lebih umum dari itu?</p>
<p style="text-align: justify;">Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi –semoga Allah mengampuninya- berkata:<br />
Bismillaahirrohmaanir rohiim. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Sholawat, salam, dan keberkahan dari Allah semoga tercurah kepada hamba Allah dan RasulNya, Nabi kita dan Imam, dan pemimpin kita, Muhammad bin Abdillah, dan kepada keluarga, Sahabat, serta orang-orang yang mengikutinya hingga (mendekati) hari kiamat. Amma ba’du :</p>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya kekafiran dan kemurtadan – wal-Iyaadzu billah- terjadi karena beberapa hal:<br />
- Penentangan terhadap sesuatu yang sudah jelas dalam agama<br />
- Melakukan perbuatan kufur<br />
- Mengucapkan ucapan kufur<br />
- Meninggalkan atau berpaling dari agama Allah Azza Wa Jalla<br />
Bisa juga dalam bentuk kekufuran dalam keyakinan, seperti jika seseorang berkeyakinan bahwa Allah memiliki istri dan anak, atau berkeyakinan bahwa Allah memiliki sekutu dalam KekuasaanNya, atau berkeyakinan bahwa bersama Allah ada pihak lain yang mengatur segala sesuatu ini, atau berkeyakinan bahwa ada pihak yang berserikat dengan Allah dalam Nama dan Sifat-SifatNya, atau berkeyakinan bahwa ada pihak lain yang berhak mendapatkan ibadah selain Allah, atau berkeyakinan adanya pihak lain yang bersekutu dalam Rububiyyah Allah, maka orang yang demikian dikafirkan dengan keyakinan ini dengan kekafiran yang keluar dari Islam.<br />
Kekufuran juga bisa berupa perbuatan, seperti seseorang yang bersujud kepada berhala, melakukan perbuatan sihir, atau melakukan perbuatan kesyirikan seperti berdoa kepada selain Allah, menyembelih untuk selain Allah, bernadzar untuk selain Allah, atau thawaf di Baitullah sebagai bentuk taqorrub kepada selain Allah. Maka kekufuran juga bisa terjadi karena perbuatan sebagaimana pada ucapan.<br />
Kekufuran dalam bentuk ucapan seperti seseorang yang mencela Allah atau mencela Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam atau mencela agama Islam atau mengejek Allah, KitabNya, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam atau agamanya. Allah berfirman kepada sekelompok orang dalam perang Tabuk yang mengejek Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam dan para Sahabatnya :</p>
<p style="font-size: 35px; font-family: Traditional Arabic; text-align: justify; line-height: 50px; direction: rtl;" dir="rtl">{ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ }{ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ }</p>
<p style="text-align: justify;">Katakanlah : Apakah kepada Allah, ayat-ayatNya, dan RasulNya kalian mengejek? Janganlah meminta maaf, kalian telah kafir setelah keimanan kalian (Q.S atTaubah:65-66)<br />
(Dalam ayat ini) Allah menetapkan kekufuran bagi mereka setelah keimanan. Hal ini menunjukkan bahwa kekufuran bisa terjadi dengan perbuatan, keyakinan, dan juga ucapan, sebagaimana disebutkan dalam ayat (di atas) karena mereka menjadi kafir dengan sebab ucapan.<br />
Kekufuran bisa berupa penentangan. Penentangan dan keyakinan bisa merupakan satu kesatuan. Kadang pula diantara keduanya ada perbedaan. Bentuk penentangan misalkan: menentang perkara yang sudah sangat jelas dalam agama, seperti menentang Rububiyyah dan Uluhiyyah Allah, menentang bahwa Allah adalah satu-satunya yang berhak diibadahi, menentang salah satu Malaikat, Rasul, Kitab yang diturunkan, menentang akan dibangkitkannya makhluk, menentang Jannah, dan anNaar, pembalasan (dari Allah), Hisab (perhitungan pada hari kiamat), atau menentang wajibnya sholat, zakat, kewajiban haji, shaum (di bulan Ramadlan), kewajiban berbakti kepada kedua orang tua, menyambung silaturrahmi, dan hal-hal selainnya yang telah sangat jelas kewajibannya dalam agama secara dharuri. Atau menentang pengharaman zina, riba, meminum khamr, durhaka kepada kedua orangtua, memutus silaturrahmi, pengharaman menyuap (risywah) , atau yang selainnya yang telah sangat jelas pengharamannya dalam agama.<br />
Kekufuran juga bisa dalam bentuk berpaling dari agama Allah, meninggalkan, menolak agama Allah, seperti berpaling dari agama Allah, tidak mau mempelajarinya dan tidak mau beribadah kepada Allah. Maka ia dikafirkan dari sikap berpaling ini. Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p style="font-size: 35px; font-family: Traditional Arabic; text-align: justify; line-height: 50px; direction: rtl;" dir="rtl">{ وَالَّذِينَ كَفَرُوا عَمَّا أُنْذِرُوا مُعْرِضُونَ }</p>
<p>Dan orang-orang kafir berpaling dari peringatan (kepada mereka)(Q.S al-Ahqaaf:3)<br />
Dan Allah Ta’ala berfirman :</p>
<p style="font-size: 35px; font-family: Traditional Arabic; text-align: justify; line-height: 50px; direction: rtl;" dir="rtl">{ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ }</p>
<p style="text-align: justify;">Dan siapakah yang lebih dzhalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang – orang yang berdosa (Q.S as-Sajdah:22)<br />
Sehingga kekufuran bisa dalam bentuk keyakinan, penentangan, bisa dengan perbuatan, ucapan, maupun sikap berpaling, meninggalkan, dan menolak.<br />
Barangsiapa yang dipaksa untuk mengucapkan ucapan kekufuran atau untuk berbuat kekufuran, maka orang tersebut mendapatkan udzur (tidak berdosa, pent) jika pemaksaan itu benar-benar keras (dalam keadaan genting). Contoh: Seseorang yang mampu untuk membunuhnya mengancam dengan ancaman bunuh atau meletakkan pedang di lehernya maka orang yang (dipaksa) demikian mendapatkan udzur jika ia melakukan kekufuran atau berkata dengan ucapan kekufuran, dengan syarat hatinya tetap tenang dalam keimanan. Adapun jika hatinya tenang dalam kekafiran, maka ia menjadi kufur sekalipun dalam kondisi terpaksa. Kita meminta keselamatan dan afiat kepada Allah.<br />
Orang yang melakukan perbuatan kekafiran ada 5 keadaan:<br />
1. Melakukan perbuatan kekafiran secara sungguh-sungguh, maka ini dikafirkan<br />
2. Melakukan perbuatan kekafiran dengan bergurau, maka ini dikafirkan<br />
3. Melakukan perbuatan kekafiran karena takut, maka ini dikafirkan<br />
4. Melakukan perbuatan kafir dalam kondisi dipaksa dan hatinya tenang dalam kekafiran, maka ini dikafirkan<br />
5. Melakukan perbuatan kekafiran dalam kondisi dipaksa sedangkan hatinya tenang dalam keimanan, maka orang semacam ini tidak dikafirkan berdasarkan firman Allah Ta’ala :</p>
<p style="font-size: 35px; font-family: Traditional Arabic; text-align: justify; line-height: 50px; direction: rtl;" dir="rtl">{ مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ }{ ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اسْتَحَبُّوا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الْآخِرَةِ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ }</p>
<p style="text-align: justify;">Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (ia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya adzab yang besar . Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat,, dan bahwasanya Allah tiada member petunjuk kepada kaum yang kafir (Q.S anNahl: 107-108)<br />
(As-ilah wa Ajwibah fil Iman wal kufr – arRaajihi halaman 7)</p>
<p style="text-align: justify;">Nash asli :</p>
<p style="line-height: 350%;" align="right"><span style="font-family: 'Traditional Arabic'; font-size: 26px;">السؤال الأول :<br />
بم يكون الكفر الأكبر أو الردة ؟ هل هو خاص بالاعتقاد والجحود والتكذيب أم هو أعم من ذلك ؟<br />
فقال الشيخ غفر الله له :<br />
بسم الله الرحمن الرحيم ، الحمد لله رب العالمين ، وصلى الله وسلم وبارك على عبد الله ورسوله نبينا وإمامنا وقائدنا محمد بن عبد الله وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين &#8230;&#8230;..أما بعد :<br />
فإن الكفر والردة &#8211; والعياذ بالله &#8211; تكون بأمورٍ عدة :<br />
- فتكون بجحود الأمر المعلوم من الدين بالضرورة .<br />
- وتكون بفعل الكفر .<br />
- وبقول الكفر .<br />
- وبالترك والإعراض عن دين الله عز وجل.<br />
فيكون الكفر بالاعتقاد كما لو اعتقد لله صاحبة ًأو ولدا أو اعتقد أن الله له شريك في الملك أو أن الله معه مدبرٌ في هذا الكون أو اعتقد أن أحدا يشارك الله في أسمائه أو صفاته أو أفعاله أو اعتقد أن أحدا يستحق العبادة غير الله أو اعتقد أن لله شريكا في الربوبية فإنه يكفر بهذا الاعتقاد كفرا أكبر مخرجا من الملة .<br />
ويكون الكفر بالفعل كما لو سجد للصنم أو فعل السحر أو فعل أي نوع من أنواع الشرك كأن دعا غير الله أو ذبح لغير الله أو نذر لغير الله أو طاف بغير بيت الله تقربا لذلك الغير فالكفر يكون بالفعل كما يكون بالقول .<br />
* ويكون الكفر بالقول كما لو سب الله أو سب رسوله صلى الله عليه وسلم أو سب دين الإسلام أو استهزأ بالله أو بكتابه أو برسوله صلى الله عليه وسلم أو بدينه ، قال الله تعالى في جماعة في غزوة تبوك استهزؤوا بالنبي صلى الله عليه وسلم وبأصحابه : { قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ }{ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ } فأثبت لهم الكفر بعد الإيمان فدل على أن الكفر يكون بالفعل كما يكون بالاعتقاد ويكون بالقول أيضا كما سبق في الآية فإن هؤلاء كفروا بالقول .<br />
* ويكون الكفر بالجحود والاعتقاد وهما شيء واحد وقد يكون بينهما فرق فالجحود كأن يجحد أمرًا معلوما من الدين بالضرورة كأن يجحد ربوبية الله أو يجحد ألوهية الله أو استحقاقه للعبادة أو يجحد ملكا من الملائكة أو يجحد رسولا من الرسل أو كتابا من الكتب المنزلة أو يجحد البعث أو الجنة أو النار أو الجزاء أو الحساب أو ينكر وجوب الصلاة أو وجوب الزكاة أو وجوب الحج أو وجوب الصوم أو يجحد وجوب بر الوالدين أو وجوب صلة الرحم أو غير ذلك مما هو معلوم من الدين بالضرورة وجوبه أو يجحد تحريم الزنا أو تحريم الربا أو تحريم شرب الخمر أو تحريم عقوق الوالدين أو تحريم قطيعة الرحم أو تحريم الرشوة أو غير ذلك مما هو معلوم من الدين بالضرورة تحريمه .<br />
* ويكون الكفر بالإعراض عن دين الله والترك والرفض لدين الله كأن يرفض دين الله بأن يعرض عن دين الله لا يتعلمه ولا يعبد الله فيكفر بهذا الإعراض والترك قال الله تعالى : { وَالَّذِينَ كَفَرُوا عَمَّا أُنْذِرُوا مُعْرِضُونَ } وقال تعالى : { وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ } .<br />
فالكفر يكون بالاعتقاد ويكون بالجحود ويكون بالفعل ويكون بالقول ويكون بالإعراض والترك والرفض .<br />
ومن أُكره على التكلم بكلمة الكفر أو على فعل الكفر فإنه يكون معذورا إذا كان الإكراه ملجئا كأن يُكرهه إنسان قادر على إيقاع القتل به فيهدده بالقتل وهو قادر أو يضع السيف على رقبته فإنه يكون معذورا في هذه الحالة إذا فعل الكفر أو تكلم بكلمة الكفر بشرط أن يكون قلبه مطمئنا بالإيمان ، أما إذا اطمئن قلبه بالكفر فإنه يكفر حتى مع الإكراه نسأل الله السلامة والعافية .<br />
فالذي يفعل الكفر له خمس حالات :<br />
1- إذا فعل الكفر جادا فهذا يكفر .<br />
2- إذا فعل الكفر هازلا فهذا يكفر .<br />
3- إذا فعل الكفر خائفا فهذا يكفر .<br />
4- إذا فعل الكفر مكرها واطمئن قلبه بالكفر فهذا يكفر .<br />
5- إذا فعل الكفر مكرها واطمئن قلبه بالإيمان فهذا لا يكفر لقول الله تعالى { مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ }{ ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اسْتَحَبُّوا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الْآخِرَةِ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ } .</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.salafy.or.id/2012/01/31/fatwa-syaikh-ar-rajihi-tentang-kekafiran-dan-kemurtadan-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PENGUMUMAN &#8220;PENYALURAN DONASI DAMMAJ&#8221; UPDATE 30/01/2012</title>
		<link>http://www.salafy.or.id/2012/01/30/pengumuman-penyaluran-donasi-dammaj-update-30012012/</link>
		<comments>http://www.salafy.or.id/2012/01/30/pengumuman-penyaluran-donasi-dammaj-update-30012012/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jan 2012 06:18:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.salafy.or.id/?p=4551</guid>
		<description><![CDATA[Bismillahirrahmanirrahim Segala pujian yang sempurna hanya milik Allah, tiada skutu bagi-Nya. Shalawat dan salam semoga... <a class="meta-more" href="http://www.salafy.or.id/2012/01/30/pengumuman-penyaluran-donasi-dammaj-update-30012012/">selengkapnya <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 style="text-align: center;" align="left"><strong>Bismillahirrahmanirrahim</strong></h3>
<p style="text-align: justify;" align="left">Segala pujian yang sempurna hanya milik Allah, tiada skutu bagi-Nya. Shalawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Nabi Muhammad, keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti beliau dengan baik, hingga akhir masa.</p>
<p style="text-align: justify;" align="left">Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufik kepada kita untuk mengilmui dan mengamalkan agama-Nya, yang termasuk di antaranya adalah ta’awun dan membantu saudara kita yang tertimpa kesulitan. Terkait dengan telah ditutupnya penggalangan dana untuk membantu saudara-saudara kita Ahlus Sunnah di Dammaj, kami mengucapkan <em>jazakumullah khairan</em> atas segala bantuan yang telah diberikan oleh pembaca sekalian. Semoga amal tersebut diterima oleh Allah dan bermanfaat bagi pelakunya di akhirat kelak.</p>
<p style="text-align: justify;" align="left">Terkait dengan itu pula, perkenankanlah kami menyampaikan kepada segenap pembaca tentang rincian pengiriman dana ke Dammaj. Dana yang terkumpul tersebut kami kirimkan melalui asy-Syaikh Ahmad al-Wushabi, imam masjid Darul Hadits di Dammaj, <em>hafizhahullah</em>.</p>
<p style="text-align: justify;" align="left"><strong>Berikut ini lampiran bukti pengiriman dana melalui beliau.</strong></p>
<ol style="text-align: justify;" start="1">
<li><strong>Tanggal 15 Shafar 1433 H/09-01-2012 M, sejumlah Rp.30.000.000,00</strong></li>
<li><strong>Tanggal 23 Shafar 1433 H/17-01-2012 M, sejumlah Rp.50.000.000,00</strong></li>
<li><strong>Tanggal 30 Shafar 1433 H/24-01-2012 M, sejumlah Rp.20.000.000,00</strong></li>
<li><strong>Tanggal 01 Rabi’ul Awwal 1433 H/25-01-2012 M, sejumlah Rp.26.810.000,00</strong></li>
</ol>
<p style="text-align: justify;" align="left"><strong>Total dana yang dikirimkan adalah Rp.126.810.000,00.</strong></p>
<p style="text-align: justify;" align="left">Catatan:</p>
<p style="text-align: justify;" align="left">Alhamdulillah, ada beberapa pihak yang menanggung biaya pengiriman dana tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;" align="left"> Bukti pengiriman DONASI DAMMAJ :</p>
<p><iframe src="https://docs.google.com/document/pub?id=1SBa-qfzdNIpbtC7jfdM_q1uGrC9re6gtbfVxBCEdzuo&amp;embedded=true" frameborder="0" width="900" height="600"></iframe></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.salafy.or.id/2012/01/30/pengumuman-penyaluran-donasi-dammaj-update-30012012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

