Agama adalah An – Nashiihah (Hadits ke-7 Arbain anNawawiyyah)

Agama adalah An – Nashiihah (Hadits ke-7 Arbain anNawawiyyah)

Beritahu yang lain

Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Oleh Ustadz Kharisman

 

عَنْ أَبِي رُقَيَّةَ تَمِيمٍ بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ  أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الدِّينُ النَّصِيحَةُ  – ثَلاَثاً- قُلْنَا لِمَنْ قَالَ لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ   (رواه مسلم)

dari Abu Ruqoyyah Tamim bin Aus adDaari bahwasanya Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: Agama ini adalah an-Nashiihah –beliau mengucapkan tiga kali-. Kami (para Sahabat) berkata: Untuk siapa wahai Rasulullah? Rasul menjawab: untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, Pemimpin kaum muslimin, dan seluruh kaum muslimin (H.R Muslim, Abu Dawud)

 

PENGULANGAN KALIMAT

Ucapan Nabi : “agama ini adalah anNashiihah” sebanyak tiga kali adalah berdasarkan riwayat Abu Dawud dan atTirmidzi, sedangkan menurut riwayat Muslim hanya disebutkan satu kali

 

MAKNA anNashiihah

 

AnNashiihah secara bahasa bisa bermakna :

  1. Memurnikan; membersihkan.
  2. Memperbaiki; menambal kekurangan (disarikan dari perkataan al-Khotthoby).

anNashiihah adalah lawan dari sikap khianat dan tipu daya. Kalau khianat dan tipu daya berarti ketidakcocokan antara sesuatu yang ditampakkan (lahiriah) dengan sesuatu yang disembunyikan (terpendam dalam hati dan direncanakan selanjutnya), maka anNashiihah adalah kejujuran dan keikhlasan; sama antara lahiriah (yang diucapkan, dikerjakan, dan ditampakkan) dengan batiniah (yang terdapat dalam hati).

AnNashiihah juga bermakna kemurnian niat dan tekad untuk memberikan kebaikan kepada obyek penerima tanpa ada tendensi/ kepentingan lain.

 

AnNashiihah kepada Allah

Sikap memurnikan tauhid kepada Allah dalam :

  1. Rububiyyah : meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Rabb (Pencipta, Penguasa, dan Pengatur) seluruh makhluk.
  2. Uluhiyyah : beribadah hanya kepada Allah dan meninggalkan peribadatan kepada selain Allah.
  3. Asma’ Was-Sifaat : meyakini bahwa Allah memiliki Nama-Nama dan Sifat-Sifat yang penuh dengan kesempurnaan, terjauhkan dari segala aib dan kekurangan. Menetapkan bagi Allah Nama dan Sifat-Sifat yang Allah tetapkan dalam AlQuran maupun melalui lisan Rasul-Nya dalam Sunnah yang shahihah tanpa  :
  4. Tahriif :memalingkan lafadz atau maknanya kepada yang lain
  5. Ta’thiil : menolak/ meniadakan Nama dan Sifat-Sifat itu.
  6. Takyiif : menanyakan kaifiyatnya (bagaimana atau seperti apa).
  7.  Tamtsiil : menyamakan/ menyerupakan dengan makhluk.

Sudah terkandung dalam makna anNashiihah kepada Allah itu : mencintai Allah di atas segala-galanya, mencintai dan membenci sesuatu karena Allah, menjalankan ketaatan kepada-Nya, menjauhi laranganNya, membenarkan khabar dariNya, dan seterusnya.

 

AnNashiihah kepada Kitab Allah

Beriman bahwa Kitab Allah itu adalah Kalam (Firman ; Ucapan) Allah yang mengandung khabar-khabar yang benar, hukum-hukum yang adil, kisah-kisah yang bermanfaat. Berupaya kuat untuk :

  1. Mempelajari al-Qur’an (cara membaca yang benar, makna-makna dan tafsirnya).
  2. Menghayati dan tadabbur terhadap makna-maknanya.
  3. Menjaga al-Qur’an (menjaga kemurniannya dan berusaha menghafalnya).
  4. Mengajarkan dan mendakwahkan al-Qur’an sesuai dengan kemampuannya.
  5. Mengamalkan isi dan kandungan al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

 

AnNashiihah kepada Rasul

Beriman bahwa beliau adalah Rasul dan hamba Allah. Menghormati dan mencintai beliau (Nabi Muhammad shollallaahu ‘alaihi wasallam) di atas kecintaan kepada manusia lain. Kecintaan kepada Rasul ini adalah kecintaan karena Allah, bukan cinta tandingan bagi Allah. Mendahulukan ucapan Rasul di atas ucapan manusia lain. Menjalankan Sunnahnya (menjalankan perintah dan menjauhi larangannya), serta menjauhi kebid’ahan (tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan yang beliau syariatkan). Membenarkan kabar yang datang dari beliau melalui hadits-hadits yang shahih sekalipun tidak terjangkau nalar/ akal pikiran.

 

AnNashiihah kepada Pemimpin Kaum Muslimin (Pemerintah Muslim)

Mengakui kepemimpinannya, mentaati perintahnya selama tidak dalam kemaksiatan kepada Allah, menjaga kehormatan dan kewibawaannya di hadapan rakyat, membantu mensukseskan kebijakan-kebijakannya yang ma’ruf, memberikan nasehat kepadanya secara diam-diam dengan cara yang beradab (sesuai hadits ‘Iyaadh bin Ghonm), sabar terhadap kekurangan dan kedzaliman yang ada padanya, berdoa kepada Allah untuk kebaikan mereka (para pemimpin).

اتَّقُوا اللَّهَ رَبَّكُمْ وَصَلُّوا خَمْسَكُمْ وَصُومُوا شَهْرَكُمْ وَأَدُّوا زَكَاةَ أَمْوَالِكُمْ وَأَطِيعُوا ذَا أَمْرِكُمْ تَدْخُلُوا جَنَّةَ رَبِّكُمْ

Taatlah kepada Allah Rabb kalian, sholatlah lima waktu, puasalah di bulan kalian (Ramadlan), tunaikan zakat harta kalian, taatilah pemimpin kalian, niscaya kalian masuk surga (dari) Rabb kalian (H.R atTirmidzi)

 

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ

Barangsiapa yang melihat sesuatu yang tidak ia sukai pada pemimpinnya, maka hendaknya bersabar (H.R alBukhari dan Muslim)

Seseorang bertanya kepada Sahabat Nabi Ibnu Abbas tentang beramar ma’ruf nahi munkar terhadap pemimpin. Ibnu Abbas menjawab:

فَإِنْ كُنْتَ لاَ بُدَّ فَاعِلاً فَفِيمَا بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ

 

Jika engkau harus melakukannya, maka lakukanlah dengan penyampaian yang hanya antara engkau dan dia saja yang tahu (riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnafnya).

 

AnNashiihah kepada Semua Kaum Muslimin

Senang kebaikan terjadi kepada saudara sesama muslim sebagaimana kita senang hal itu terjadi pada diri kita. Berusaha untuk menyebar kemaslahatan bagi kaum muslimin dan menjauhkan mereka dari segala mudharat (bahaya). Menutupi aib sesama saudara muslim. Berdakwah, menyampaikan ilmu, beramar ma’ruf dan nahi munkar kepada mereka dengan ikhlas dan hikmah. Jika ada di antara mereka yang berbuat kesalahan dan tidak terang-terangan dalam berbuat kesalahan, maka dinasehati dengan cara yang baik dan secara sembunyi-sembunyi (tidak ditampakkan kepada orang lain).

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

مَنْ وَعَظَ أَخَاهُ سِرًّا فَقَدْ نَصَحَهُ وَزَانَهُ وَمَنْ وَعَظَهُ عَلاَنِيَةً فَقَدْ فَضَحَهُ وَخَانَهُ

Barangsiapa yang memberikan nasehat kepada saudaranya secara sembunyi-sembunyi maka sungguh ia telah bersikap anNashiihah kepadanya dan memperindahnya. Barangsiapa yang memberikan nasehat kepadanya secara terang-terangan, maka sungguh ia telah membongkar aibnya dan berkhianat kepadanya (Hilyatul Awliyaa’ (9/140))

 

Kisah Jarir dan Komitmennya untuk Bersikap anNashiihah kepada Semua Muslim

 

Jarir bin Abdillah adalah salah seorang Sahabat Nabi yang mulya. Suatu hari ia perintahkan kepada maulanya untuk membeli kuda seharga 300 dirham. Maka, maulanya tersebut kemudian mendapatkan penjual dan kudanya yang cocok dengan harga itu, didatangkan kepada Jarir. Sang penjual sudah setuju kudanya dijual dengan harga 300 dirham.

Ketika ditunjukkan pemilik kuda dan kudanya itu, kemudian Jarir memperhatikan bahwa sebenarnya kuda itu sangat bagus. Ia kemudian berkata: Wahai saudaraku, kudamu lebih tinggi harganya dari 300 dirham, apakah kau mau aku beli dengan harga 400 dirham. Penjualnya mengatakan: terserah engkau wahai Abu Abdillah (julukan Jarir). Jarir berpikir ulang dan menimbang, kemudian berkata lagi : kudamu lebih baik dari 400 dirham, bagaimana kalau aku beli dengan harga 500 dirham. Pemilik kuda berkata lagi : terserah engkau wahai Abu Abdillah. Demikian seterusnya, Jarir menambah seratus-seratus dirham, hingga mencapai 800 dirham.

Setelah selesai transaksi, orang yang keheranan dengan sikap Jarir tersebut menanyakan mengapa Jarir berbuat demikian. Akhirnya Jarir berkata : Sesungguhnya aku telah berbaiat kepada Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam untuk bersikap anNashiihah kepada setiap muslim (Syarh Shahih Muslim karya anNawawy juz 2 halaman 40, dinukil ringkasan dari riwayat atThobarony).

Sumber Bacaan :

Syarh al-Arbain anNawawiyyah dari para Ulama’ (Ibnu Rojab al-Hanbaly, Ibnu Daqiiqil Ied, Syaikh as-Sa’di, Syaikh al-Utsaimin, Syaikh Sulaiman alLuhaimid)